Surabaya (beritajatim.com) – Kementerian Keuangan Provinsi Jatim menyampaikan laporan Asset and Liability Committee (ALCo) Regional Jatim periode hingga 30 September 2022. Salah satunya terkait Kondisi Perkembangan Ekonomi Daerah.
Kepala Kantor Wilayah (Kanwil) Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Provinsi Jatim, Taukhid mengungkapkan tingkat inflasi bulan september 2022, terdapat tiga kelompok pengeluaran penyumbang inflasi tertinggi.
“Tingkat inflasi tertinggi yaitu kelompok Tranportasi 9,38 %, kelompok Penyediaan Makanan dan Minuman Restoran 1,17% dan kelompok Perlengkapan, Peralatan dan Pemeliharaan Rutin Rumah Tangga 0,62%,” ujar Taukhid di Gedung Keuangan Negara (GKN), Rabu (28/10/2022).
ia juga memaparkan, bahwa disamping itu terdapat kelompok pengeluaran yang mengalami deflasi yaitu kelompok Makanan, Minuman dan Tembakau sebesar 0,24%. Tingginya inflasi pada kelompok Transformasi karena dipicu oleh kenaikan harga minyak yang diumumkan pemerintah tanggal 4 September 2022.
PDRB Jawa Timur Triwulan II-2022 yang diukur Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) sebesar Rp677,52 Triliun, sedangkan Atas Dasar Harga Konstan (ADHK) mencapai Rp438,03 triliun. Dibandingkan dengan TW-I (q-to-q), perekononomian Jatim tumbuh sebesar 2,39% dan jika dibandingkan TW-II tahun 2021 (y-o-y), perekonomian Jatim tumbuh sebesar 5,74%.
“Secara Kumulatif perekonomian Jatim selama semester 1 tahun 2022 dibandingkan dengan semester 1 tahun 2021, perekonomian Jatim tumbuh sebesar 5,49%. Pertumbuhan terjadi pada semua komponen pengeluaran kecuali komponen Pengeluaran Konsumsi Pemerintah,” ucapnya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”DJPb-Jatim”]
Dari sisi ekspor provinsi mengalami penurunan sebesar 3,63% dibandingkan Agustus dari USD 2,12 miliar menjadi USD 2,04 miliar. Tak hanya itu sisi Impor September turun mencapai USD 2,82 miliar atau sebesar 10,43%.
Terakhir dijelaskan perkembangan daerah dari sisi neraca perdagangan Jawa Timur selama bulan September 2022 mengalami defisit sebesar USD 0,78 miliar. Defisit Neraca Perdagangan disumbang oleh sektor migas sebesar USD 0,68 miliar, dan di sektor nonmigas sebesar USD 0,10 miliar. Secara kumulatif selama Januari-September 2022 (y-to-d).
“Neraca perdagangan Jawa Timur juga mengalami defisit sebesar USD 7,21 milyar. Hal ini disebabkan karena defisit pada sektor migas sebesar USD 5,77 miliar dan sektor nonmigas sebesar USD 1,44 miliar,” katanya. [asg/but]






