Jombang (beritajatim.com) – Suara azan berkumandang dari sebuah masjid di Pesantren At Tahdzib Desa Rejoagung Kecamatan Ngoro Kabupaten Jombang Jawa Timur. Para santri keluar dari kamarnya masing-masing mengambil air wudu, lalu menunaikan salat wajib, Senin (17/10/2022).
Tentu saja, kegiatan selanjutnya santri dari berbagai daerah itu belajar mengaji serta menuntut ilmu di sekolah yang berada di lingkungan pesantren. Namun ada nuansa berbeda di pesantren yang diasuh oleh KH. Ahmad Masrukh ini. Santri juga diajari berwira usaha. Dididik berdagang dan usaha ternak berbagai jenis ikan air tawar. Mulai ikan lele, ikan nila, hingga ikan bawal.
Gayung pun bersambut. Pesantren ini memiliki lahan yang luas. Nah, lahan-lahan itulah yang digunakan sebagai kolam ikan. Praktis selain asrama santri, petak-petak kolam ikan juga nampak di sekitar pesantren tersebut. Ada kolam tanah, ada kolam permanen, serta ada pula kolam bioflok (berbahan terpal). Selain itu, ada juga lokasi khusus untuk pemijahan bibit ikan.
[berita-terkait number=”3″ tag=”pesantren-jombang”]
Walhasil, belajar dan bekerja adalah dua hal yang menjadi aktivitas rutin di lingkungan pesantren ini. Harapannya, ketika sudah lulus dari Pesantren At Tahdzib, mereka bukan hanya piawai dalam mengaji, tapi juga mumpuni dalam membangun ekonomi. “Hasil dari perikanan ini digunakan untuk operasional pesantren. Makanya dalam mengelola ternak ikan ini kami melibatkan santri,” kata pengurus pesantren At Tahdzib, Ibnu Sina.
Keseriusan pesantren At Tahdzib dalam mengelola kolam ikan berbuah manis. Selain mendapatkan keuntungan secara ekonomi, pesantren ini juga pernah meraih predikat juara nasional dalam pembibitan lele. Terbaru pesantren Attahdzib menjadi satu-satunya di Indonesia yang berhasil memproduksi secara massal ikan bawal dengan metode pemijahan campur. Karena pada umumnya pembibitan ikan bawal menggunakan metode suntik atau striping.
Putra dari KH Ahmad Masrukh ini menjelaskan bahwa pembibitan ikan bawal di pesantrennya dimulai pada 2011. Saat itu dirinya beserta pengurus pesantren lainnya belajar pemijahan dari sejumlah daerah, di antaranya Pandeglang Banten, Purworejo dan Yogjakarta. Dari sana, ia mengambil indukan bawal untuk dibawa ke pesantren di Jombang.
Pembibitan Model Baru
Pemijahan adalah proses pengeluaran sel telur oleh induk betina dan sperma oleh induk jantan yang kemudian diikuti dengan perkawinan. Pesantren At Tahdzib kemudian mengambil induk itu dari wilayah Purworejo, Jawa Tengah dan sekitarnya. Pertama kali mencoba menggunakan metode suntik (striping).
Pria yang akrab disapa Gus Sina ini menerangkan, pada umumnya pemijahan bawal memang disuntik dulu, distriping, dicampur telurnya, baru dipijahkan. Tapi kalau di Ponpes Attahdzib berbeda, karena menggunakan metode baru. Yakni langsung dicampur secara alami. Jadi induk betina bawal sama yang jantan digabung di satu tempat. Perpaduannya 2 jantan 1 betina.
“Prosesnya, induk bawal dipilih dan diambil siang. Besok pagi induknya diangkat lalu diambul telurnya kemudian dimasukkan ke tempat penetasan. Setelah menetas, ditempatkan ke fiber atau penampungan bibit-bibit larva. Dari larva itu kami tunggu waktunya sekitar 3 hari sampai 1 minggu. Itu kami pindah ke tempat yang lebih besar. Untuk saat ini kami pindah ke kolam-kolam tanah yang sudah tersedia di pondok,” paparnya.
[berita-terkait number=”3″ tag=”pengusaha”]
Ibnu mengungkapkan, dari larva-larva itu, warga sekitar juga sudah berminat untuk membeli. Waktu pemindahan sekitar 1,5 bulan, dengan ukuran mencapai 5 sampai 7 sentimeter. Bahkan ada yang lebih 7 sentimeter. Nah, bibit itu ada yang dijual dan diambil tengkulak. Tentunya, juga diambil oleh kolam-kolam pembesaran di pondok At Tahdizb. “Karena kami punya kolam pembesaran, kolam pemijahan, juga kolam pembibitan,” ungkapnya.
Berapa lama waktu untuk pembesaran bawal? Sina menjelaskan, untuk pembesaran membutuhkan waktu kisaran 4-6 bulan. Ketika panen, ikan-ikan tersebut diambil oleh tengkulak yang kebetulan alumni dari Pondok Attahdzib sendiri. “Empat bulan itu dipilih yang besar-besar. Tapi kalau sampai 6 bulan, itu bisa dipanen semua. Dan semua santri ikut andil dalam budidaya bawal ini, mulai dari pembibitan hingga panen,” bebernya.
Hasil Ratusan Juta

Ibnu Sina menambahkan, hasil dari budidaya bawal ini masuk ke pondok juga. Untuk kolam pembesaran sebanyak enam kolam. Dalam satu kolam isinya bervariasi. Ada yang jumlahnya hingga 75 ribu ikan bawal dalam satu kolam seluas satu hektar. Sedangkan kolam yang ukurannya 0,5 hektar diisi 50 ribu ikan bawal.
“Kolam satu hektare mulai dari bibit sampai sekarang, sekitar 3 bulan, menghabiskan biaya sekitar Rp 130-140 juta. Kalau keuntungan kotor bisa mencapai Rp 200 juta. Pasarnya Jombang sendiri, Kediri, Nganjuk, Malang. Juga pernah sampai Bali. Terakhir panen yang kolam satu hektare itu sekitar 25 ton. Harga per kilo rata-rata Rp 12 ribu, total Rp 300 juta. Itu panen satu kolam terakhir kali kemarin. Untuk saat ini belum,” urainya.
Lantas apa kendala yang selama ini dihadapi? Ibnu Sina mengatakan bahwa ikan yang ada di kolam tidak selamanya sehat. Karena terkadang juga muncul hama. Semisal penyakit cacar yang menyebabkan ikan mati. Hal itu pernah terjadi di kolam milik pesantren ini. Munculnya cacar disebabkan oleh cuaca panas.
“Kalau sudah demikian makan solusinya adalah sering mengganti air. Tujuannya, agar suhu air kolam selalu terjaga. Jadi musim kemarau air itu panas dan cenderung berkurang. Sehingga ikan terkena cacar dan mati. Kami tidak menggunakan obat apapun untuk menghindari penyakit itu. Hanya menjaga sirkulasi air,” pungkasnya.
Terlepas dari itu semua, Gus Sina menegaskan bahwa pondok pesantren tidak hanya tempat penempaan mental dan spiritual santri, tetapi juga pusat pembekalan hidup melalui ragam skill. Oleh sebab itu, selain mengaji, pesantren At Tahdzib Ngoro Jombang juga mengajarkan santrinya agar bisa menjadi wirausahawan terutama di sektor dagang dan peternakan. [suf]






