Surabaya (beritajatim.com) – Kerusuhan pertandingan sepakbola hingga saat ini masih menjadi perbincangan yang hangat. Apalagi kasus Kanjuruhan yang menewaskan ratusan orang di Malang. Meskipun peristiwa bukan mengenai kerusuhan antar penonton.
Namun, asal mula tembak gas mata air karena adanya kerusuhan dari para penonton. Sayangnya, petugas aparat kurang bijak bertindak sehingga mengenai korban yang tidak bersalah. .
Suporter bola yang ricuh memang sudah hal yang biasa.Pasalnya, masalah ini bukan hanya terjadi di kota besar bahkan hampir seluruh pertandingan bola. Hal ini sempat mendapatkan komentar dari Prof. Drs. Koentjoro, MBSc., Ph.D., Psikolog UGM yang memberikan pendapat terkait alasan para suporter bola sering ricuh. Jadi, tindakan anarkis atau vandalisme dari suporter sepak bola terjadi karena adanya pengaruh jiwa massa.
Menurut Koentjoro, saat ada di tengah massa atau sekumpulan orang, seseorang dapat bersikap berbeda. Besar kemungkinan, individu lebih mudah terdorong melakukan tindakan yang dilakukan secara bersama.
Kemunculan jiwa massa ini terjadi saat berada di antara massa dengan perilaku aneh saat sendirian namun tidak berani melakukan hal itu. Selain itu, suporter yang mengenakan pakaian atau atribut klubnya secara tidak langsung membuat kita dan mereka menjadi satu bagian. Kericuhan seperti ini hampir sama dengan kampanye dan demo.
Jika kita berada tengah demo atau kampanye tentu ada pemimpin yang berteriak dengan kata-kata dan melakukan gerakan yang secara tidak sengaja atau sadar akan terpengaruh. Tanpa disadari, orang yang lebih mudah kehilangan kesadaran ketika berkumpul karena terhipnotis lingkungan atau lingkungan.
[berita-terkait number=”5″ tag=”sepakbola”]
Maka dari itu, untuk mencegah kerusuhan massa, Koentjoro menyampaikan bahwa pentingnya upaya pengendalian massa. Pengendalian massa dapat dimulai dengan memecah massa dalam kelompok-kelompok lebih kecil sehingga jiwa massa tidak terlalu menyatu
Saat jiwa sudah dikendalikan massa maka lebih susah untuk memecah mereka bahkan ada yang memiliki tujuan seperti adu domba atau konten biar virak. Hal ini yang menjadi pemicu terjadinya kericuhan sehingga perlu memecah konsentrasi massa antara penonton. (PRD/ian)






