Surabaya (beritajatim.com) – Mantan manajer Tim Nasional di Sea Games 1991, I Gusti Kompyang (IGK) Manila angkat bicara usai kerusuhan maut yang terjadi di Stadion Kanjuruhan Malang, Sabtu (01/10/2022) malam. Kerusuhan maut menewaskan 129 orang, termasuk 2 anggota kepolisian.
Diwawancarai beritajatim.com, Ia menyampaikan rasa dukanya kepada 129 korban. Menurutnya, kerusuhan tersebut bisa dihindari jika petugas panpel dan stakeholder mengantisipasi rivalitas kedua klub.
“Sudah puluhan tahun sejak ada liga Galatama itu selalu kalau ketemu pasti ricuh. Harus diantisipasi, satu kapasitas stadion berapa, apakah pembeli tiket dibatasi dengan kapasitas. Panitia pelaksana pertandingan harus mencari penyebabnya,” kata IGK Manila, Minggu (2/10/2022).
Ditanya terkait gas air mata yang ditembakan ke tribun penonton, pria yang pernah menjabat sebagai pengurus PSSI bidang wasit ini mengatakan jika harus segera dilakukan penyelidikan untuk mengetahui alasan petugas polisi menembakan gas air mata. Lantaran menurut aturan FIFA, penggunaan gas air mata dilarang di dalam stadion.
[berita-terkait number=”4″ tag=”arema-vs-persebaya”]
“Itu semua harus dicari penyebabnya apa dan siapa. Gas air mata itu mungkin bikin orang panik, orang yang ada di atas tribun turun ke bawah, jalannya sempit dan terinjak-injak, meninggalnya itu mungkin karena itu. Saya melihat meninggal banyak menurut saya karena gas air mata, kedua ada unsur X,” imbuhnya.
Ia menegaskan, PSSI harus bertanggung jawab, lantaran kerusuhan seperti ini bukan saja kali pertama terjadi. Ia pun mendesak agar pihak Panpel segera membuat laporan. Bahkan, menurutnya, Kemenpora harus turun langsung untuk menyelesaikan kasus ini lantaran dalam waktu dekat ada berbagai event internasional yang diikuti Timnas Indonesia.
“Kemenpora harus turun mengevaluasi, panitia pelaksana dan kepolisian juga dikaitkan, ini (kerusuhan) mencoreng PSSI dan kepolisian nanti bisa kena (imbasnya). Karena sepakbola ini butuh keamanan karena yang menonton banyak,” pungkasnya. [ang/but]






