Ponorogo (beritajatim.com) – Semarak perayaan Grebeg Suro nampaknya mulai ditabuh oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ponorogo. Beberapa hari lalu, Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko melaunching logo resmi kegiatan perayaan yang dua tahun belakangan ini tidak digelar karena pandemi Covid-19.
Perayaan Grebeg Suro nanti nampaknya bakal berbeda dengan gelaran Grebeg Suro sebelum-sebelumnya. Pasalnya, perayaan Grebeg Suro nanti didukung oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf).
Sebab, salah satu rangkaian kegiatan Grebeg Suro, yakni Festival Nasional Reog Ponorogo (FNRP) masuk dalam Kharisma Event Nusantara (KEN) 2022 Kemenparekraf. “Akan kami turunkan tim secara khusus untuk memantau acara Grebeg Suro dan Festival Reog yang juga masuk kalender KEN 2022,” kata Menparekraf Sandiaga Salahuddin Uno saat berkunjung di Ponorogo, Kamis (30/6/2022).
[berita-terkait number=”5″ tag=”pemkab-ponorogo”]
Bentuk dukungan dilakukan Kemenparekraf untuk suksesnya perayaan Grebeg Suro. Yakni dengan melakukan beberapa tahapan, mulai dari proses kurasi, implementasi dan promosi sampai nanti bagaimana ekonomi di Ponorogo dapat termobilisasi dengan baik. Jangan sampai perayaan Grebeg Suro yang menandai kebangkitan ini malah salah sasaran. Sebab, saat ini beban ekonomi semakin berat.
“Jangan sampai program Grebeg Suro ini tidak menyentuh kebutuhan masyarakat. Harus bisa adaptif, karena sudah dinantikan masyarakat selama 2 tahun ditempa pandemi Covid-19,” pungkas Sandi.
Sementara itu, Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko yang juga menemani Menparekraf Sandiaga Uno melihat-lihat UMKM di bumi reog, mengatakan bahwa dengan adanya hajatan Pemkab Ponorogo masuk kalender KEN 2022 Menparekraf, Ia ingin ke depan ada formulasi dalam hal bantuan pendanaan. Dia berharap tidak hanya membantu promosi maupun konsepnya saja, Pemerintah Pusat juga melakukan hal yang kongkrit terkait pendanaan.
“Karena masuk kalender KEN 2022, mungkin dilakukan skema patungan anggaran untuk mensukseskannya. Sebab, nantinya juga berdampak pada perputaran ekonomi di Ponorogo,” pungkasnya. (end/kun)






