Jombang (beritajatim.com) – Tangan kanan Evelin memegang gergaji. Di depannya sebatang bambu dengan panjang tiga meter sudah rebah di tanah. Pada masing-masing ujung bambu itu ada teman Evelin yang memegangi. Tujuannya, agar lonjoran bambu itu tidak bergerak ketika dipotong menggunakan gergaji.
Meski nampak canggung, mahasiswi program studi Arsitektur UK (Universitas Kristen) Petra Surabaya ini memulai aksinya. Dia menggerakkan gergaji tersebut maju mundur. Namun aksinya tidak berjalan mulus. Terkadang, bilah gergaji itu tiba-tiba macet, terjepit di antara sela bambu yang mulai terpotong. Jika sudah demikian, maka dua orang yang bertugas memegangi bambu ikut membantu.
Evelin melakukan aktivitas itu dalam suasana yang teduh. Yakni di tepi Sungai Gunting, Dusun Sanan, Desa Mojotrisno, Kecamatan Mojoagung, Jombang, Sabtu (21/5/2022). Di sepanjang tepian sungai, pohon bambu nampak tumbuh berdesakan. Rumpun-rumpun bambu menjadi penguat tepian sungai dari gerusan air,
Namun demikian, keteduhan itu tetap saja membuat keringat Evelin bercucuran. Karena itulah pertama kali gadis berkulit putih ini praktik memotong bambu menggunakan gergaji. Saat melakukan itu, Evelin tidak sendiri. Dia didampingi anggota komunitas ‘Sahabat Bambu’ dari Yogyakarta, serta 20 mahasiswa lainnya.
Anggota Sahabat Bambu inilah yang mendampingi dan mengarahkan Evelin saat mengalami kesulitan. Bukan hanya menggergaji, sebelumnya Evelin dan mahasiswa lainnya juga ikut mengangkat bambu-bambu tersebut dari tempat agak terbuka, ke tepi sungai. Satu batang bambu diangkat oleh tiga sampai empat orang. Semuanya adalah mahasiswa jurusan aristektur UK Petra Surabaya.
“Seru sekali. Ini adalah pengalaman pertama saya, mengangkat dan menggergaji bambu. Sebelumnya saya tidak pernah. Ini hendak membuat konstruksi bambu lengkung. Kemudian digunakan untuk pos santai (pos cangkruk). Kami menggunakan teknik bambu lengkung,” kata mahasiswa semester enam ini.
[berita-terkait number=”5″ tag=”uk-petra”]
Teknik lengkung adalah sebatang bambu lurus dibuat model melengkung. Caranya, setiap ruas bambu sepanjang 30 centimeter digergaji, tapi tidak sampai putus. Nah, dengan begitu bambu ukuran panjang bisa ditekuk dengan mudah. Bambu lengkung itulah yang dipakai konstruksi dasar membuat pos santai atau pos cangkruk.
Ada 20 mahasiswa UK Petra Surabaya yang mengikuti kegiatan tersebut. Mereka datang dari Surabaya secara berombongan. “Dalam workshop di Desa Mojotrisno ini kami menggandeng komunitas Sahabat Bambu Yogyakarta,” urai Bram Michael Wayne, S.T., M.Ars, salah satu dosen prodi Arsitektur UK Petra sebagai koordinator program.
Wayne mengatakan, dalam kegiatan pemberdayaan potensi desa itu pihaknya mengangkat tema ‘Desain Bambu Konstruksi Lengkung’. Rangkaian kegiatan ini merupakan bagian dari mata kuliah Service Learning Klinik Arsitektur.
Sebelumnya, lanjut Wayne, para mahasiswa telah melakukan ‘public hearing’ dengan warga Mojotrisno pada Minggu lalu. Tujuannya, untuk menentukan mana desain yang dipilih oleh warga. Lalu dibuat secara nyata secara bertahap mulai 21 Mei.

Menurut Wayne, dipilihnya Desa Mojotrisno bukan tanpa alasan. Itu karena Mojotrisno pernah meraih penghargaan Desa Berseri (Berseri dan Lestari) tingkat Provinsi Jawa Timur tahun 2021 untuk kategori Pratama. Desa ini memiliki potensi sumber daya alam berupa bambu yang cukup banyak. Namun sayang, sumber daya itu belum dikembangkan secara maksimal.
“Rencananya mahasiswa UK Petra bersama komunitas Sahabat Bambu secara bertahap akan membuat pos santai (pos cangkruk) berbahan bambu dengan menggunakan teknik bambu lengkung. Pos ini berukuran 4×7 meter dengan ketinggian mencapai 3 meter. Bangunan ini bisa digunakan warga untuk banyak hal. Mulai dari bermain bersama anak, ronda, hingga pameran batik,” kata Wayne.
Karena selain potensi bambu, di Dusun Sanan, Mojotrisno juga terdapat sentra perajin batik warna alam. Nah, pos yang dibikin oleh mahasiswa tersebut juga bisa digunakan untuk memajang produk. “Juga bisa digunakan untuk bersantai. Ini sekaligus memberdayakan potensi bambu di sini,” katanya.
Kepala Desa (Kades) Mojotrisno Nanang Sugiarto juga ikut memantau kegiatan yang digelar di tepi Sungai Gunting tersebut. Nanang menyampaikan terima kasih kepada UK Petra yang membantu dalam perbedayaan. Dia mengakui, bambu di desanya belum dimanfaatkan secara maksimal.

Nanang kemudian membeber sejumlah potensi lain di Desa Mojotrisno yang selama ini sudah berkembang. Di antaranya, kerajinan cor kuningan yang berkembang sejak tahun 1990-an. Produksi cor kuningan tersebut sudah tembus pasar mancanegara.
“Di sini juga terdapat kerajinan batik pewarna alam. Dengan adanya pembuatan gazebo atau pos santai berbahan bambu yang diinisiasi UK Petra ini semoga bisa mendokrak potensi lain di desa kami. Untuk itu, sekali lagi kami mengucapkan terima kasih untuk UK Petra Surabaya,” kata Nanang yang mengenakan kaus warna putih. [suf]






