Ponorogo (beritajatim.com) – Kabupaten Ponorogo hingga saat ini masih zero dari kasus penyakit mulut dan kuku (PMK) yang menyerang hewan ternak, khususnya sapi. Bukan menjadi rahasia umum lagi, bahwa PMK ini sedang menjangkiti hewan ternak di beberapa wilayah di Provinsi Jawa Timur (Jatim).
Bahkan daerah tetangga terdekat Ponorogo, yakni Kabupaten Magetan sudah ada kasus. Sedikitnya ada 24 sapi di lereng Gunung Lawu itu sudah positif PMK. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ponorogo melalui Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan (Dipertahankan) bakal mempertahankan dengan sekuat tenaga, bumi reog untuk menjadi daerah yang bebas PMK.
Kepala Dipertahankan Kabupaten Ponorogo Masun menguraikan tiga strategi yang dilakukan untuk menanggulangi penyakit yang masuk ke Indonesia pertama kali pada tahun 1887 itu. Langkah pertama yang dilakukan yaitu deteksi.
Ketika ada pelaporan adanya ternak yang sakit, petugas langsung mengecek. Kemudian mendiagnosa, apakah gejala yang ditunjukkan itu mengarah ke PMK atau jenis sakit yang lain. “Alhamdulillah, dari laporan peternak yang hewan peliharaan mengalami sakit, sejauh ini belum ada gejala yang mengarah ke PMK,” kata Masun, Kamis (19/5/2022).
Langkah kedua yakni memasifkan sosialisasi. Sosialisasi bukan hanya kepada peternak dan pedagang ternak saja, namun juga masyarakat umum. Hal ini dilakukan supaya mereka memahami penularan penyakit ini alurnya seperti apa. Sehingga kegiatan atau langkah yang sekiranya bisa berpotensi untuk penularan supaya bisa dihindari.
“Untuk peternak dan pedagang ternak, juga dilakukan sosialisasi tentang tata kelola kandang. Ini penting dilakukan, sebab PMK ini penularannya cepat, jika ada satu saja dalam satu kandang ada yang terjangkit, maka bukan tidak mungkin ternak yang ada dalam satu kandang itu akan tertular semua,” katanya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”pmk-ponorogo”]
Kemudian langkah ketiga, sekaligus melengkapi dua langkah sebelumnya, yakni isolasi. Penyekatan yang dilakukan di beberapa wilayah perbatasan Ponorogo dengan Kabupaten/Kota tetangga merupakan bagian dari langkah isolasi tersebut.
Sebab, penularan PMK ini sangat cepat, mobil yang mengangkut hewan yang positif PMK, jika langsung digunakan untuk mengangkut hewan lainnya, maka bisa tertular. Sebab, dalam mobil itu berpotensi meninggalkan bekas air liur, karena penularannya sifatnya aerosol.
“Sehingga harus dilakukan pencegahan hewan masuk dari daerah wabah. Makanya penyekatan dari perbatasan Kabupaten Magetan diperketat. Jadi semua terkonsentrasi diisolasi, sehingga tidak menyebar,” pungkasnya. [end/suf]






