Gresik (beritajatim.com) – Kasus kebakaran di wilayah Kabupaten Gresik cukup tinggi. Selain banyak pemukiman yang padat, gedung hingga industri juga rawan mengalami kebakaran. Untuk meminimalisir kasus, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarla) Gresik menggelar pelatihan mitigasi bencana kebakaran.
Latihan itu dilakukan juga karena selama ini penanganan pertama terkait kebakaran masih awam dan minim. Ditambah masyarakat masih belum paham betul dasar-dasar yang dilakukan saat terjadi kebakaran.
Berdasarkan catatan Dinas Damkarla Gresik, selama 2021, ada 273 kasus. Selama Maret 2022 dinas setempat sudah menangani tujuh kasus.
“Terkait dengan itu kami akan gencar melakukan pelatihan sebagai upaya pencegahan hingga penanganan kajadian kebakaran,” kata Kepala Dinas Damkarla Gresik Agustin Halomoan Sinaga, Minggu (24/04/2022).
Ia menambahkan, untuk penanganan dasar, sebetulnya sudah ada alat pemadam api ringan (APAR) di beberapa gedung. Namun belum menyeluruh. Juga masih banyak masyarakat yang belum paham cara memadamkan api menggunakan APAR.
“Pelatihan seperti itu sudah dimulai. Gedung Pengadilan Negeri menjadi yang pertama. Ke depan, gedung-gedung perkantoran hingga sekolah juga akan kami beri pelatihan,” imbuhnya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”kebakaran-gresik”]
Mantan Kepala Dispora itu mengatakan, pelatihan ini berisi tentang pemahaman cara memadamkan api dari kain, Apar, dan alat pemadam lainnya.
“Bagaimana sedini mungkin memberikan edukasi di gedung- gedung besar. Khususnya di gedung instansi pemerintah dan obyek vital lainnya,” ungkapnya.
Melalui edukasi ini, lanjut dia, pencegahan dan pelatihan memadamkan api ini bisa menekan angka kebakaran yang cukup tinggi setiap tahunnya. Pihaknya juga menyarankan bagi masyarakat yang melakukan mudik lebaran tahun ini sebaiknya mengecek kondisi rumah. Seperti mematikan kompor hingga daya listrik sebelum meninggalkan rumah. [dny/but]






