Mojokerto (beritajatim.com) – Rumah Sakit Islam (RSI) Hasanah Kota Mojokerto menggelar skrining mata untuk pekerja pers.
Skrining mata yang digelar mulai tanggal 11 hingga 28 April 2022 ini berawal dari RSI Hasanah yang mengikuti ajang Jatim PR Awards yang digelar media online beritajatim.com.
Hal tersebut disampaikan Direktur RSI Hasanah, dr Dwi Rizki Wulandari. “Jadi sebenarnya sasaran berikutnya adalah teman-teman pers, itu sakjane sing ngarai iku Beritajatim. Serius ini, pas kami ikut Jatim PR Awards. Di sana jadi nominator kategori hospitality,” ungkapnya, Senin (18/4/2022).
Dari materi yang dipersiapkan untuk mengikuti Jatim PR Awards tersebut, ada pertanyaan juri yang membuat manajemen RSI Hasanah berpikir untuk meningkatkan hubungan dengan masyarakat. RSI Hasanah merupakan institusi yang melayani masyarakat sehingga juga harus diimbangi dengan hubungan dengan masyarakat itu sendiri.
“Kebetulan ya, satu Ramadan dan memang kita doktrinnya di Muhammadiyah itu ya filosofi surat Al Ma’un. Kedua, kebutuhan untuk mulai hubungan dengan masyarakat dan ketiga kegiatan kita internal saja. Sekolah-sekolah Muhammadiyah, Aisyiyah, masyarakat sekitar sini. Harus melangkah lagi,” katanya.
Menurutnya, hubungan masyarakat bisa dimulai dari media. Sehingga dengan momentum bulan Ramadan digunakan RSI Hasanah untuk lebih dekat dengan media di Mojokerto dengan menggelar Skrining Mata untuk Pekerja Pers. Karena skrining mata dinilai cukup penting bagi pekerja pers.
“Sebenarnya skrining itu penting. Skrining itu sebenarnya tidak ada keluhan, kita tetap harus skrining. Kadang-kadang kita tidak merasa, baik-baik saja tapi setelah di skrining ternyata butuh kacamata. Memang skrining harus didorong, karena skrining dibutuhkan semua, tidak hanya yang ada keluhan,” tuturnya.
Masih kata dr Kiki, keluhan adalah subyektif. Namun saat pemeriksaan menambah obyektivitas karena alat dan ahlinya. Pihaknya berharap dengan kegiatan tersebut, RSI Hasanah bisa dekat dengan media di Mojokerto dan RSI Hasanah bisa berkembang sehingga dibutuhkan banyak jejaring.

Dokter spesialis mata RSI Hasanah, dr Nuke Erlina Mayasari SpM mengatakan, ada 10 orang wartawan di Mojokerto yang sudah mengikuti skrining mata di RSI Hasanah. “Respon dari teman-teman wartawan, alhamdulilah cukup baik ya. Seminggu kemarin, ada 10 orang,” ujarnya.
Menurutnya, wartawan di Mojokerto sudah mulai sadar akan kebutuhan kacamata karena 80 persen kegiatan manusia dari mata. Apa yang dilihat. Apalagi, lanjut dr Nuke, wartawan melaporkan dan melihat sehingga butuh mata sebagai media penglihatan untuk melakukan aktivitas peliputan dalam sehari-hari.
“Dari 10 itu, yang 8 itu memang memerlukan kacamata. Ada yang memerlukan kacamata jarak jauh, ada yang memerlukan kacamata untuk baca dekat saja. Nah… Yang 2 ini katarak. Kebetulan keduanya usia 60 tahun, satunya 51 tahun. Itu memang ada kataraknya dan satu pasien memang ada kencing manisnya,” paparnya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”rumah-sakit”]
dr Nuke menjelaskan, jika salah satunya memiliki gula darah di atas 200 sehingga skrining mata ditunda dan disarankan diregulasi gula darahnya. Ia menyarankan saat gula darah sudah turun untuk kembali ke RSI Hasanah. Menurutnya, mereka yang datang ke RSI Hasanah adalah mereka yang butuh kacamata.
Sementara itu, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Mojokerto, Sholihudin Wijaya mengapresiasi skrining mata serta pemberian kacamata gratis yang digelar oleh RSI Hasanah Kota Mojokerto. “Semoga sinergitas yang baik antara pekerja pers dengan RSI Hasanah Kota Mojokerto bisa tetap terjalin dengan baik,” harapnya.
Menurutnya, skrining mata tersebut dirasa sangat penting. Mengingat pekerja pers dalam melaksanakan tugasnya sering berhubungan dengan gadget seperti smartphone dan laptop. Sehingga jika ada refraksi atau gangguan bisa segera terdeteksi serta mendapatkan tindakan medis seperti pemakaian kacamata. [tin/ted]






