Magetan (beritajatim.com) – Atap Pasar Sayur I kerap bocor kala musim penghujan. Akibatnya, para pedagang mengeluh dengan kondisi tersebut. Dinas Perindustrian dan Perdagangan Magetan hanya bisa melakukan tambal sulam meski tak bisa menanggulangi kebocoran atap untuk jangka panjang.
Kepala Bidang Pasar Disperindag Magetan Handoko mengungkapkan kalau pihaknya hanya bisa melakukan tambal sulam tersebut. Itupun hanya sebagian kecil dari total dana operasional untuk 14 pasar tradisional dan 7 pasar hewan. Sehingga, tidak bisa menanggulangi seluruh kerusakan bangunan. Mayoritas bangunan pasar di wilayah Magetan berusia tua sekitar 20 hingga 30 tahun.
“Khusus untuk pasar sayur I dan II kan hanya bisa ditambal sulam untuk mengurangi kebocoran. Untuk itu, kami telah usulkan untuk membangun bangunan pasar dari nol. Kami masih pengajuan ke Bappenas, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, dan Menko Perekonomian. Total dana yang dibutuhkan Rp 214 miliar, sehingga kami ajukan pembangunan menggunakan dan pemulihan ekonomi nasional (PEN),” kata Handoko, Selasa (29/3/2022).
Dengan dana segitu, Pasar Sayur I dan II bakal disulap seperti Pasar Legi Ponorogo dan Pasar Besar Ngawi. Sehingga, pedagang bisa lebih tertata. Terlebih, adanya kemungkinan adanya atap bocor ataupun kerusakan yang lain bisa lebih terminimalisir.
“Tentu dengan desain yang baru ini bakal menerapkan pasar dengan standar nasional Indonesia (SNI) dimana jarak antar pedagang bisa diatur sesuai dengan luasan pasar. Karena saat ini pedagang di Pasar Sayur itu ribuan, tapi luas pasarnya kan tidak bisa ditambah lagi. Jadi, harus dibangun dari nol dengan konsep yang hampir sama dengan Pasar di wilayah tetangga sperti Ngawi dan Ponorogo,” kata Handoko.
Pihaknya bahkan memiliki rencana untuk membuat pasar yang terletak di Kelurahan Sukowinangun itu agar jadi pasar dengan standar nasional Indonesia (SNI). Masterplan sudah diselesaikan, bekerjasama dengan Universitas Brawijaya. (fiq/kun)






