Bojonegoro (beritajatim.com) – Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar bersubsidi mulai sering mengalami kekosongan di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU). Kondisi tersebut hampir terjadi di semua SPBU yang ada di Kabupaten Bojonegoro.
Supervisor SPBU Jetak Kecamatan/Kabupaten Bojonegoro M Mukhlisin mengatakan, kekosongan solar subsidi sudah terjadi sejak awal 2022. Hal itu terjadi karena jatah pengiriman terbatas. Sementara solar non subsidi harganya lebih mahal. “Untuk setiap kali pengisian biasanya 16 ribu kilo liter, itu untuk dua hari biasanya sudah habis,” ujarnya, Kamis (24/3/2022).
[berita-terkait number=”5″ tag=”spbu”]
Seringnya terjadi kekosongan ini juga dirasakan hampir oleh semua pengelola SPBU yang ada di Bojonegoro, Tuban maupun Lamongan. “Kalau di SPBU Jetak biasanya kalau kehabisan hanya setengah hari,” jelasnya.
Senada juga diungkapkan pengelola SPBU di Kecamatan Kalitidu, Widodo. Pengusaha SPBU pernah meminta penambahan distribusi solar subsidi namun tidak bisa. Setiap hari, pihaknya hanya mendapat kiriman 8 ribu kilo liter, kecuali hari sabtu mendapat jatah 16 ribu kilo liter karena hari minggu tidak ada kiriman.
“Kalau dari keluhan pengusaha SPBU, di Kabupaten Bojonegoro, Tuban dan Lamongan semua dikurangi. Sementara harga solar non subsidi harganya naik, sehingga solar subsidi banyak dicari,” pungkasnya. [lus/suf]






