Surabaya (beritajatim.com) – Tanggal 17 Agustus tidak hanya menjadi moment hari lahirnya bangsa
Indonesia. Namun juga sebagai peristiwa bersejarah yang akan dikenang setiap tahunnya. Di balik peristiwa sakral tersebut ternyata ada fakta-fakta menarik seputar proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia (RI).
Melansir Wikipedia, Selasa (17/8/2021) proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia jatuh pada hari Jumat, 17 Agustus 1945 atau tanggal 17 Agustus 2605 menurut perhitungan Jepang. Bertempat di rumah seorang saudagar Arab-Indonesia bernama Faradj Martak kegiatan pembacaan teks proklamasi oleh Ir. Soekarno didampingi Mohammad Hatta berlangsung khidmat. Dibalik moment bersejarah tersebut ternyata terdapat fakta-fakta menarik seputar proklamasi kemerdekaan RI, berikut ulasannya:
Pemilihan Tanggal
Ternyata Ir. Soekarno tidak sembarangan dalam memilih tanggal pelaksanaan proklamasi kemerdekaan RI. Tertulis dalam buku berjudul Samudera Merah Putih Karya Lamidjah Hardi, alasan Ir. Soekarno memilih tanggal 17 Agustus karena ia mempercayai hal-hal berbau mistik. Angka 17 dianggap sebagai angka yang suci dan keramat. Menurut perhitungan kalender Jawa, 17 Agustus 1945 jatuh pada hari Jumat Legi. Kata legi menurut bahasa jawa berarti manis. Selain itu, Ir. Soekarno mengaitkan tanggal 17 dengan peristiwa turunnya Al-Quran serta jumlah rakaat dalam salat umat Islam.
Foto yang Hendak Dirampas Jepang
Pengabadian foto peristiwa saat proklamasi kemerdekaan RI dilakukan oleh Frans Mendoer, seorang fotografer proklamasi. Setelah dirinya usai mendokumentasikan, ia didatangi oleh segerombolan tentara Jepang yang bermaksud ingin merampas negatif foto miliknya. Namun Mendoer berhasil mengelabui mereka dengan mengatakan bahwa hasil foto miliknya telah diserahkan kepada Barisan Polopor, dan ia tidak memiliki salinannya. Padahal sebenarnya Mendoer menyembunyikan negatif foto tersebut dengan menanamnya di bawah pohon kantor harian Asia Raja.
Naskah Asli Proklmasi Dibuang di Tempat Sampah
Faktanya setelah pembacaan proklamasi serta upacara bendera merah putih usai dilaksanakan, naskah asli tersebut tidak pernah disimpan oleh pemerintah. Mengutip Wikipedia, seorang wartawan bernama Burhanuddin Mohammad Diah menemukan naskah tersebut berada ditumpukkan sampah rumah milik Laksamana Maeda pada 17 Agustus 1945, dini hari. [rsf/bj0]






