Surabaya (beritajatim.com) – Meneruskan bisnis keluarga generasi ke-8 adalah pilihan Yohana, putri dari pemilik pebisnis peti mati Ario. Lulusan Universiry Of Central Oklahoma tahun 1997 ini menjadi satu-satuna warga negara Indonesia yang mengambil gelar Bachelor Of Funeral Scine di Amerika.
Yohana menceritakan jika jurusan yang dipilihnya ini berkaitan dengan apa yang akan dikerjakan. Dia harus belajar bagaimana penanganan jenazah, pengawetan jenazah, anatomi tubuh dan bahan kimia untuk pengawetan ibarat kata sudah sama dengan sekolah kedokteran.
Namun ia dengan suka cita melalui perjalanan pendidikannya, ditambah lagi bekal ilmu hukum dan psikologi yang ia tempuh, hasilnya kini ia sukses membesarkan bisnis keluarganya.
“Buat saya meneruskan bisnis keluarga bukan pilihan tapi saya dicetak untuk meneruskan bisnis ini. Maka saya memilih sekolah yang berkaitan dengan bisnis ini. Bachelor of Funeral Science. Jurusan yang berkaitan dengan ilmu kematian dimulai dengan penanganann pengawetan jenazah hingga proses lainnya,” ungkap ibu dua anak ini kepada beritajatim.com, Jumat (6/8/2021).
Bahkan ia menegaskan untuk masuk bisnis peti mati ini bukan semata-mata hanya untuk keuntungan materi tetapi harus memiliki empaty dan rasa sosial untuk sesama. Apalagi di kondisi pandemi covid 19 saat ini.
Bukan hanya memikirkan perasaan kepada para masyarakat yang membutukan peti mati hingga pemakaman, ia pun memikirkan kondisi para karyawannya yang menjadi garda depan sebagai pelayananan jenazah non covid dan covid.
Yohana menceritakan di awal pandemi tahun lalu, begitu corona mulai masuk ke Surabaya, ia dengan tanggap menyiapkan masker, APD, bilik disinfektan. Bahkan ia juga mempersiapkan dua dokter perusahaan untuk datang memberikan penyuluhan.
“Saya sudah memprepare sejak awal bagaimana standart protokol kesehatan bagi karyawan karena kita ini termasuk yang berada di garda depan maka harus benar-benar terjaga bukan hanya masker dan APD. Kami juga menyiapkan dokter perusahaan dan mendatangkan gugus tugas untuk penyuluhan karyawan,” ungkap Yohana.
Bahkan tak tanggung-tanggung ia rela membeli alat sprayer yang dipikul dan disenfectant fogging machine sampai alat yang paling baru buatan Sropa Electrostatic Sprayer.
[berita-terkait number=”4″ tag=”covid-surabaya”]
“Undang dokter perusahaan untuk datang memberi penyuluhan cara memakai dan melepas APD. Training ini dilakukan dua kali untuk antisipasi meski akhirnya ada juga beberapa karyawan tumbang. Kita juga ada sprayer yang dipikul, disinfectant fogging machine. Sampai yang datang baru, electrostatic sprayer buatan Eropa,” imbuhnya.
Dengan kondisi ini, ia kini hanya berharap kepqda semua orang yang memiliki bisnis di bidang seperti ini untuk menumbuhkan rasa kemanusiaanya. Berikan sedikit hatinya untuk berbagi tanpa harus menaikkan harga berilah keringan untuk mereka. [way/but]








