Surabaya (beritajatim.com) – Situasi pandemi Covid-19 benar-benar berimbas pada aktivitas berkesenian. Memang beberapa penyesuaian dan terobosan telah dilakukan namun begitu situasi tetaplah tidak bisa maksimal seperti saat keadaan normal.
Hal yang sama terjadi pada Bengkel Muda Surabaya (BMS). Agenda kesenian dari BMS menjadi berubah akibat wabah Covid-19. Salah satunya terkait rencana penerbitan dan bedah buku.

“Biasanya acara bedah buku diselenggarakan Bengkel Muda Surabaya bekerjasama dengan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surabaya. Kali ini terganjal karena situasi pandemi Covid 19 meningkat lagi,” kata Heroe Budiarto, Ketua Bengkel Muda Surabaya, Minggu (27 Juni 2021).
Heroe menuturkan, agenda berkesenian dari BMS bukan dibatalkan tetapi ditunda. Dia berharap situasi berkembang baik agar rencana bisa direalisasikan. Harapan itu muncul bulan Februari lalu tetapi ternyata situasi belum benar-benar membaik.

“Padahal Februari 2021 lalu Covid-19 di Surabaya sempat menurun. Itu artinya kegiatan sastra dan diskusi Bengkel Muda Surabaya bakal bergeliat lagi. Karena sudah 2 tahun kegiatan di Sanggar hampir terhenti dan tersendat-sendat. Tapi ternyata kasus Covid masih naik turun sehingga kegiatan terpaksa ditunda lagi,” kata lelaki brewok dan gondrong ini.
Bagi BMS sendiri, situasi lebih sulit sebab posisi sekretariat berada di kompleks Balai Pemuda Surabaya. Kompleks yang berada di bawah UPTD Pemkot Surabaya. Artinya, BMS harus menghormati kebijakan dari Pemkot.
“Jika pandemi Covid-19 sudah menurun berarti bagi kami ada harapan untuk menggelar bedah buku di Ruang Kaca Balai Pemuda, Jl Gubernur Suryo 15 Surabaya seperti biasanya. Ternyata harapan itu tak bisa diwujudkan, karena Covid-19 dinyatakan meningkat lagi karena ditemukannya varian baru. Sehingga sejak Maret kemarin kawasan Balai Pemuda ditutup kembali dan harus steril dari kegiatan dan kerumunan masyarakat,” ujar Heroe.

Buku apa saja sebenarnya yang telah disiapkan oleh BMS? Siapa saja yang terlibat dalam penerbitan buku tersebut?
“Kami sudah menyiapkan 3 tokoh Bengkel Muda Surabaya yang baru saja beliau menerbitkan bukunya dengan kolega penerbitnya masing-masing. Buku pertama, Maryamah dan Putra Angin, merupakan kumpulan Puisi karya Sirikit Syah yang juga mantan Ketua Bengkel Muda Surabaya periode 1984 – 1986. Buku kedua, Menulis Satu Kalimat (Obsesi, Realitas Politik dan Sastra PSK) karya Saiful Hadjar anggota senior di Bengkel Muda Surabaya. Dan yang terakhir buku ketiga, Agen Kebudayaan : Cermin Yang Tak Pernah Buram merupakan kumpulan esai karya Soetanto Soepiadhy. Soetanto Soephiadhy yang juga sebagai staf ahli di bidang pendidikan di Bengkel Muda Surabaya sering menjadi teman diskusi menyusun program kegiatan di Bengkel Muda Surabaya,” papar Heroe panjang lebar.
[berita-terkait number=”4″ tag=”bms”]
Hero meyakini bahwa 3 buku tersebut di atas sangat menarik untuk didiskusikan. “Ketiganya merupakan hasil proses kreatif selama pandemi. Tentu saja hal itu luar biasa, kita dapat belajar dari strategi beliau menulis hingga menyusunnya menjadi sebuah buku. Semoga keadaan ini akan segera berakhir, sehingga kami dapat menyelenggarakan kegiatan kami di Balai Pemuda Surabaya kembali,” tandas Heroe.
Sekadar diketahui, selama pandemi Covid-19 ini, kegiatan berkesenian di BMS tidaklah terhenti sama sekali. BMS beberapa kali menggelar Kelas Penulisan Puisi secara online. Sempat pula menggelar rangkaian diskusi webinar dengan melibatkan banyak ilmuwan dan budayawan Surabaya. Sedangkan Juli nanti, BMS telah menyiapkan kegiatan Bulan Puisi BMS. [but]






