Surabaya (beritajatim.com) – Bengkel Muda Surabaya berhasil menerima Anugerah Sutasoma dari Balai Bahasa Jawa Timur tahun 2021. Penyerahan penghargaan dilakukan di Hotel Bumi Surabaya, Jalan Basuki Rahmat, Surabaya, Kamis, 21 Oktober 2021.
Ketua Umum Bengkel Muda Surabaya (BMS) Heroe Budiarto menyatakan, penghargaan ini merupakan hasil kerja seluruh anggota. “Saya mengucapkan terima kasih kepada teman-teman yang aktif bergiat sastra di BMS. Sejak dulu, BMS memang memfasilitasi teman-teman di Surabaya dan sekitarnya untuk menjalani aktivitas sastra,” kata Heroe.
Dijelaskan oleh Heroe, sebelum pandemi Covid-19, BMS aktif menjalankan kelas-kelas sastra. Ada kelas cerpen, kelas puisi, dan kelas drama. Termasuk pula kelas seni lain, yaitu kelas musik dan kelas seni rupa.
“Begitu pandemi berlangsung, area Balai Pemuda Surabaya tidak boleh dipakai kegiatan. Sehingga aktivitas beralih ke dunia online, virtual. Bermacam-macam kegiatan kita laksanakan,” katanya.
Heroe menuturkan, sejak berdiri tahun 1972, BMS telah melahirkan banyak sekali sastrawan dan seniman. Catat saja seperti Saiful Hadjar, S Jai, Widodo Basuki, Zaenuri, Ndiny Indiati, Sirikit Syah, Parmin Ras, Nasar Albatati, dan sebagainya. Termasuk pula tokoh yang telah meninggal seperti Bambang Sujiyono, Akhudiat, Gombloh, Bawong, Naniel, Pocek, dan lain-lain.
“BMS adalah ruang terbuka bagi siapapun untuk belajar berkesenian. Baik itu sastra, musik, seni rupa, teater, tari. Sehingga, sekali lagi, penghargaan Sutasoma ini merupakan hasil kerja seluruh anggota BMS,” tandas Heroe.
Sekadar diketahui, Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur kembali menggelar acara Anugerah Sutasoma. Acara ini merupakan program Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur memberi penghargaan kepada kalangan yang berjasa dan berdedikasi dalam bidang kesusastraan Indonesia dan daerah di Jawa Timur. Terdapat tujuh kategori anugerah yang namanya mengambil dari mahakarya pujangga pada masa Kerajaan Majapahit, berjudul Sutasoma karya Mpu Tantular, yang di dalamnya terdapat semboyan Bhinneka Tunggal Ika.
Dr. Asrif, M.Hum., kepala Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur menjelaskan, ketujuh kategori tersebut adalah sastrawan berdedikasi, komunitas sastra terbaik, buku sastra terbaik dalam bahasa Indonesia dan bahasa daerah, buku kritik sastra terbaik, dan dua guru dari bahasa Indonesia dan bahasa daerah yang berdedikasi. Masing-masing mendapatkan penghargaan berupa piagam dan uang tunai.
Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur adalah unit pelaksana teknis (UPT) Badan Pengembangan Bahasa dan Pebukuan, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) untuk wilayah Jawa Timur. Setiap tahun lembaga kebahasaan dan kesusastraan yang berkantor di Jalan Siwalanpanji II/1, Buduran Sidoarjo itu menganugerahkan penghargaan terhadap para penulis, penggiat sastra, dan guru bahasa/sastra di Jawa Timur yang menunjukkan eksistensi, dedikasi, dan kualitas pada bidangnya. Acara tahun ini menghadirkan undangan terbatas, yaitu 50–70 orang, meliputi para sastrawan, seniman, akademisi, penggerak seni dan sastra, dan guru di Jawa Timur.
Berikut ini perincian peraih Anugerah Sutasoma untuk tahun 2021.
1. Kategori sastrawan berdedikasi: Widodo Basuki (sastrawan Jawa, penggiat PPSJS/Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya, dan redaktur majalah berbahasa Jawa, Jaya Baya)
2. Kategori karya sastra berbahasa Indonesia terbaik: novel Anwar Tohari Mencari Mati karya Mahfud Ikhwan (sastrawan dari Lamongan).
3. Kategori karya sastra berbahasa daerah terbaik: antologi geguritan Mabur saka Swarga karya Mas Gampang Prawoto (sastrawan Jawa dan penggiat PSJB/Pamarsudi Sastra Jawi Bojonegoro)
4. Kategori komunitas sastra terbaik: Bengkel Muda Surabaya (komunitas dari Surabaya).
5. Buku kritik sastra terbaik: Tuhan dan Manusia-Abdun karya A. Syauqi Sumbawi (Sastrawan dari Lamongan)
6. Kategori guru Bahasa Indonesia berdedikasi: Kusprihyanto Namma (MAN 1 Ngawi)
7. Kategori guru Bahasa Daerah berdedikasi: Gayuh Risdian Saputro (SMA Muhammadiyah 1 Ponorogo)
Acara Anugerah Sutasoma diramaikan dengan pentas seni dan sastra dari para penerima penghargaan. Ada pembacaan puisi, pembacaan bagian novel, pertunjukan geguritan, musikalisasi puisi, dan orasi budaya. Selain itu, acara juga diramaikan dengan unjuk kebolehan pentas drama dari The Nine TheatreVision (SMKN 12 Surabaya).
[berita-terkait number=”4″ tag=”bms”]
Sementara itu, dewan juri Anugerah Sutasoma 2021 terdiri atas akademisi dan sastrawan. Mereka adalah Prof. Dr. Djoko Saryono, M.Pd. (Guru Besar Sastra Universitas Negeri Malang), Prof Dr. I.B. Putera Manuaba, M.Hum. (Guru Besar Sastra Universitas Airlangga), Dr. M. Shoim Anwar, M.Pd. (Sastrawan dan dosen Universitas Adi Buana Surabaya), dan Mashuri, M.A. (Sastrawan dan peneliti sastra Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur).
Ketua panitia Anugerah Sutasoma 2021, Yulitin Sungkowati, M.Hum., menjelaskan bahwa teknis dan sifat Anugerah Sutasoma memang berbeda dengan sayembara. Anugerah tersebut memang didesain sebagai penghargaan. Adapun dalam penghargaan yang aktif adalah panitia di Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur. Pihak panitia yang proaktif untuk mengumpulkan karya dan menelusuri sepak terjang sastrawan dan penulis di Jawa Timur dalam kurun waktu tertentu. Namun, panitia lebih menyukai para penulis di Jawa Timur yang aktif mengirimkan karyanya ke kami karena otomatis akan dinilai.
Diharapkan gelar Anugerah Sutasoma dapat semakin menyemarakkan kehidupan sastra, seni dan budaya di Jawa Timur. [but]









