Ringkasan Berita:
- Dinkes Magetan mencatat 80 kasus HIV sepanjang 2026, terdiri dari 54 laki-laki dan 26 perempuan.
- Kelompok usia produktif 18-24 tahun menjadi salah satu kelompok yang mendapat perhatian dalam upaya pencegahan.
- Dinkes memperkuat deteksi dini melalui layanan Mobile VCT, edukasi di sekolah, dan skrining ibu hamil.
- Hingga laporan terbaru, tidak ditemukan kasus HIV pada bayi maupun balita di Kabupaten Magetan.
Magetan (beritajatim.com) – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Magetan mencatat sebanyak 80 kasus Human Immunodeficiency Virus (HIV) hingga periode pelaporan terbaru pada tahun 2026. Dari jumlah tersebut, sebanyak 54 kasus ditemukan pada laki-laki, sedangkan 26 kasus lainnya terjadi pada perempuan.
Sub Koordinator Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Dinkes Magetan, Agus Yudi Purnomo, mengatakan jumlah kasus HIV yang ditemukan tahun ini menunjukkan adanya peningkatan. Menurutnya, kelompok usia produktif, khususnya rentang usia 18 hingga 24 tahun, menjadi salah satu fokus utama dalam upaya pencegahan dan pengendalian HIV.
“Peningkatan. Usia produktif 18-24,” kata Agus Yudi Purnomo.
Agus menjelaskan, perilaku berisiko pada kelompok remaja menjadi salah satu aspek yang perlu mendapat perhatian dalam upaya pencegahan penularan HIV. Salah satu perilaku berisiko yang menjadi perhatian adalah hubungan seksual sesama laki-laki atau laki-laki seks dengan laki-laki (LSL).
Untuk memperluas akses deteksi dini, Dinkes Magetan terus mengoptimalkan layanan Mobile Voluntary Counseling and Testing (Mobile VCT), yaitu layanan konseling dan tes HIV bergerak yang menyasar masyarakat, terutama kelompok yang memiliki faktor risiko.
Selain itu, seluruh puskesmas di Kabupaten Magetan juga didorong aktif memberikan edukasi kesehatan kepada pelajar melalui kegiatan sosialisasi di sekolah. Program tersebut turut memanfaatkan momentum Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) agar informasi mengenai pencegahan HIV dapat diterima sejak dini.
“Mobile VCT, puskesmas sosialisasi ke sekolah saat MPLS,” ujar Agus.
Upaya pencegahan juga dilakukan terhadap ibu hamil melalui skrining HIV sejak trimester pertama kehamilan. Pemeriksaan tersebut bertujuan mendeteksi infeksi HIV sedini mungkin sehingga penanganan dapat segera diberikan sesuai kondisi pasien.
Apabila ibu hamil dinyatakan positif HIV, tenaga kesehatan akan menerapkan pendekatan test and treat, yakni pemeriksaan dan pemberian terapi sesegera mungkin sesuai indikasi medis. Selain itu, bayi yang dilahirkan juga akan mendapatkan tindakan profilaksis untuk menekan risiko penularan HIV dari ibu kepada anak.
Agus menegaskan, hingga data terbaru yang dimiliki Dinkes Magetan, belum ditemukan kasus HIV pada bayi maupun balita. Kondisi tersebut menunjukkan upaya pencegahan penularan HIV dari ibu ke anak yang dilakukan selama ini berjalan dengan baik.
Secara keseluruhan, data Dinkes Magetan menunjukkan bahwa kelompok laki-laki masih mendominasi temuan kasus HIV dengan 54 kasus, sementara perempuan tercatat sebanyak 26 kasus.
Dinkes Magetan mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kesadaran terhadap pentingnya pencegahan serta deteksi dini HIV melalui pemeriksaan secara sukarela. Edukasi mengenai perilaku hidup sehat, layanan Mobile VCT, penguatan layanan di fasilitas kesehatan, serta skrining ibu hamil akan terus dilakukan sebagai bagian dari strategi menekan penularan HIV dan memastikan penderita memperoleh penanganan sedini mungkin. [fiq/beq]






