Ringkasan Berita:
- KH Zainul Ibad As’ad atau Gus Ulib menyebut tantangan zaman membutuhkan pemimpin PBNU yang mampu menjaga peran NU sebagai pengawal sekaligus pengarah peradaban.
- Gus Ulib menegaskan keberhasilan NU harus diukur dari manfaat nyata bagi umat melalui penguatan pendidikan, dakwah, ekonomi, kesehatan, dan pemberdayaan masyarakat.
- Pernyataan Gus Ulib disampaikan menjelang Muktamar ke-35 NU di Jombang yang mulai memunculkan dinamika terkait figur calon Ketua Umum PBNU periode mendatang.
Jombang (beritajatim.com) – Pengasuh Pondok Pesantren Darul Ulum Rejoso Peterongan Jombang, KH Zainul Ibad As’ad atau Gus Ulib, menyebut tantangan zaman yang semakin kompleks membutuhkan sosok pemimpin Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang tidak hanya mampu menjaga tradisi keulamaan, tetapi juga memiliki visi besar dalam mengarahkan peradaban.
Menurut Gus Ulib, pemimpin PBNU ke depan harus memiliki kapasitas untuk mempertahankan peran strategis NU sebagai pengawal sekaligus penjaga peradaban. NU, kata dia, sejak awal berdiri tidak hanya berfungsi sebagai organisasi keagamaan, tetapi juga memiliki tanggung jawab dalam menjaga nilai kemanusiaan, persatuan bangsa, serta menghadirkan Islam yang damai dan moderat.
“NU sejak awal berdirinya tidak hanya hadir sebagai organisasi keagamaan, tetapi juga sebagai pengawal dan penjaga peradaban,” ujarnya, Senin (27/7/2026).
Gus Ulib menilai peran tersebut semakin penting di tengah berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat saat ini. Tantangan seperti intoleransi, radikalisme, disinformasi, hingga krisis moral membutuhkan kepemimpinan yang mampu menghadirkan solusi berbasis ilmu, nilai agama, dan kemaslahatan umat.
Karena itu, menurut Gus Ulib, pemimpin PBNU mendatang harus mampu menjaga keseimbangan antara ajaran agama, tradisi, dan perkembangan zaman. NU tidak cukup hanya mengikuti perubahan, tetapi harus tampil sebagai kekuatan yang memberikan arah dan membentuk karakter masyarakat.
“Sebagai pengawal peradaban, NU berperan menjaga keseimbangan antara ajaran agama, tradisi, dan perkembangan zaman,” katanya.
Ia menegaskan bahwa keberhasilan NU tidak hanya diukur dari besarnya organisasi maupun banyaknya kegiatan yang dijalankan. Ukuran utama keberhasilan NU adalah sejauh mana keberadaannya mampu memberikan manfaat nyata bagi umat dan bangsa.
“NU hadir untuk memberikan kemaslahatan bagi umat. Oleh karena itu, setiap program, kebijakan, dan kegiatan yang dijalankan harus berorientasi pada manfaat nyata yang dapat dirasakan oleh masyarakat luas, bukan sekadar menjadi kegiatan seremonial,” tegasnya.
Menurut Gus Ulib, NU ke depan harus terus memperkuat perannya dalam berbagai bidang strategis, mulai dari pendidikan, dakwah, kesehatan, ekonomi, sosial, hingga pemberdayaan masyarakat. Dengan begitu, NU dapat terus menjadi kekuatan yang menjawab kebutuhan umat di tengah perubahan zaman.
“Keberhasilan NU tidak hanya diukur dari besarnya organisasi atau banyaknya kegiatan, tetapi dari sejauh mana kehadirannya mampu membawa manfaat, menciptakan kemaslahatan, dan memberikan dampak positif bagi kehidupan umat dan bangsa,” lanjut Gus Ulib.
Lebih jauh, Gus Ulib menekankan bahwa NU tidak boleh hanya bersikap reaktif terhadap perkembangan zaman. Sebaliknya, NU harus mampu melahirkan gagasan besar, memperkuat tradisi keilmuan, mengembangkan pendidikan, serta membangun ekonomi umat yang berlandaskan nilai Islam Ahlussunnah wal Jamaah.
“NU tidak hanya hadir untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Lebih dari itu, NU harus menjadi kekuatan yang mampu membentuk karakteristik zaman sekaligus mengarahkan peradabannya,” ungkapnya.
“Perubahan zaman tidak boleh hanya direspons secara reaktif. NU harus tampil sebagai pelopor yang melahirkan gagasan, membangun tradisi keilmuan, mengembangkan pendidikan, memperkuat ekonomi umat, serta menanamkan akhlak yang luhur,” katanya.
Gus Ulib menambahkan, peradaban yang dibangun NU harus berpijak pada ilmu pengetahuan, akhlak, persaudaraan, toleransi, dan keadilan. Dengan fondasi tersebut, NU diyakini mampu tetap relevan serta memberikan kontribusi besar bagi bangsa dan dunia.
Pernyataan Gus Ulib disampaikan menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang akan digelar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, pada 27-31 Agustus 2026 mendatang. Agenda tersebut membuat dinamika mengenai figur calon Ketua Umum PBNU mulai menjadi perhatian warga Nahdliyin.
Sejumlah kalangan Nahdliyin mulai memberikan perhatian terhadap sejumlah tokoh yang dinilai memiliki kapasitas memimpin PBNU, termasuk Menteri Haji dan Umrah RI, KH Mochammad Irfan Yusuf atau Gus Irfan.
Kemudian, KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), KH Abdussalam Shohib (Gus Salam), KH Abdul Hakim Mahfud (Gus Kikin), Menteri Agama KH Nazaruddin Umar, KH Yusuf Chudlori (Gus Yusuf), KH Abdul Ghaffar Rozin (Gus Rozin), serta KH Zulfa Mustofa. [suf]






