Pamekasan (beritajatim.com) – Krisis murid baru mulai menghantui sejumlah sekolah dasar negeri di Pamekasan. Salah satu yang paling mencolok terjadi di SD Negeri Jungcancang 3. Pada tahun ajaran 2026/2027, sekolah tersebut hanya menerima 3 (tiga) murid baru dari total sebanyak 10 pendaftar.
Terlebih 7 (tujuh) calon murid lainnya justru memilih pindah ke sekolah lain tanpa pemberitahuan kepada pihak SD Negeri 3 Jungcangcang Pamekasan, sehingga hanya 3 murid baru yang mengikuti program masa Pengenalan Lingkungan Seolah (MPLS) 2026, Senin (13/7/2026).
Jumlah tersebut tentunya menjadi sinyal kuat bahwa sekolah negeri di kawasan perkotaan mulai kehilangan daya saing di tengah menjamurnya sekolah swasta dan perubahan preferensi masyarakat dalam memilih lembaga pendidikan.
Dengan hanya tiga siswa di kelas I, proses pembelajaran dipastikan berlangsung jauh dari ideal. Kondisi tersebut sekaligus dapat berpotensi memengaruhi efektivitas penggunaan anggaran, distribusi tenaga pendidik, hingga keberlangsungan sekolah di masa mendatang.
Kepala SD Negeri Jungcancang 3 Pamekasan, Achmad Muslim mengatakan sebanyak 10 calon murid baru dipastikan sudah mendaftar dan mengisi formulir pendaftaran. Namun saat pelaksanaan MPLS, justru hanya tersisa tiga orang. “Kami sempat heran saat MPLS, kok hanya tiga orang yang masuk ke sekolah. Tapi mau bagaimana lagi, tiga orang ini tetap kita rawat dengan sangat baik kedepan,” kata Achmad Muslim.
“Bahkan kami juga sudah melakukan kroscek, tujuh murid lainnya ternyata memilih sekolah lain. Di antaranya di SD Negeri Jungcancang 5, SDI Insan Cendikia, dan SDI Al-Munawarah,” sambung Achmad Muslim.
Selain itu pihaknya mengakui jika jumlah pendaftar pada tahun ini memang jauh di bawah harapan, sekalipun berbagai upaya sudah dilakukan, mulai dari sosialisasi ke masyarakat sekitar hingga memperkenalkan berbagai program sekolah kepada calon wali murid. Namun, hasilnya belum mampu mendongkrak minat masyarakat.
“Selama ini kami sudah lakukan sosialisasi sejak lama, bahkan untuk pendaftaran tahun depan juga sudah kita siapkan pada tahun ini. Terlebih jumlah murid dalam dua tahun berturut-turut sangat sedikit, tahun (2025) lalu hanya 1 (satu) murid, tahun ini tiga murid baru. Semoga kedepannya bertambah,” harapnya.
Ke depan pihaknya juga berharap adanya penertiban terkait pemerataan murid khususnya antar sekolah negeri. “Tentunya bagi kami hal ini menjadi perhatian serius, sehingga kedepannya bisa lebih baik,” pungkasnya.
Fenomena tersebut tidak hanya disebabkan oleh menurunnya angka kelahiran, persaingan dengan sekolah swasta yang menawarkan berbagai program unggulan, fasilitas lebih lengkap, hingga citra sekolah yang lebih diminati masyarakat juga menjadi faktor yang sulit dihindari.
Di sisi lain, orang tua kini semakin selektif memilih sekolah bagi anak-anaknya. Kedekatan lokasi tidak lagi menjadi pertimbangan utama. Program pembelajaran, penguatan karakter, kemampuan berbahasa asing, hingga fasilitas penunjang menjadi alasan yang lebih dominan dalam menentukan pilihan.
Jika kondisi tersebut terus berlangsung, keberadaan sekolah dengan jumlah siswa yang sangat sedikit akan menghadapi tantangan besar. Selain berdampak pada efisiensi penyelenggaraan pendidikan, sekolah juga akan kesulitan menciptakan dinamika belajar yang sehat karena minimnya interaksi antarmurid. [pin/suf]






