Surabaya (beritajatim.com) – Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) resmi menerima 10 mahasiswa angkatan pertama Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS). Para mahasiswa ini terbagi dalam program studi Pulmonologi dan Obstetri Ginekologi.
Pembukaan program ini menjadi langkah konkret menekan ketimpangan tenaga medis spesialis di Indonesia. Saat ini produksi dokter spesialis nasional hanya berkisar 2.700 orang per tahun dari target 32.000 tenaga.
Rektor Unusa, Prof. Tri Yogi Yuwono, menjelaskan bahwa ini merupakan mandat langsung dari pemerintah pusat. Kewenangan diberikan kepada perguruan tinggi berakreditasi unggul untuk mempercepat ketersediaan tenaga medis ahli.
“Kepercayaan untuk menyelenggarakan PPDS merupakan amanah yang harus kami jalankan dengan penuh tanggung jawab. Fakultas Kedokteran Unusa telah meraih akreditasi unggul,” ujar Tri Yogi, Selasa (7/7/2026).
Ia menegaskan pihak kampus menolak keras budaya perploncoan yang kerap mencoreng sistem pendidikan spesialis. Mahasiswa diwajibkan membangun ekosistem akademik yang menjunjung tinggi etika dan integritas kedokteran sejak hari pertama.
“Saya tidak akan mentoleransi segala tindakan kekerasan yang terjadi dalam lingkungan Unusa. Sekarang kita juga sudah punya satuan tugas pencegahan dan penanganan kekerasan,” tegasnya.
Dekan Fakultas Kedokteran Unusa, Prof. Budi Santoso, menyoroti penyebaran asal daerah para peserta didik ini. Mahasiswa angkatan pertama tersebut datang dari Surabaya, Tuban, Jember, hingga kawasan kepulauan seperti Masalembu.
“Latar belakang mahasiswa yang berasal dari berbagai daerah menunjukkan bahwa kebutuhan dokter spesialis memang sangat besar,” papar Budi.
Seluruh peserta didik telah menandatangani pakta integritas untuk kembali bertugas di daerah asal. Hal ini menjadi komitmen awal kampus agar pelayanan medis tingkat lanjut bisa menjangkau masyarakat di wilayah terpencil.
“Kami berharap setelah menyelesaikan pendidikan, mereka kembali membawa kompetensi terbaik untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan di daerah masing-masing,” ucapnya.
Kurikulum pendidikan spesialis ini didukung penuh oleh jaringan rumah sakit pendidikan serta dokter pendidik klinis berpengalaman. Para lulusan dipersiapkan secara matang demi memberikan dampak langsung terhadap perbaikan akses layanan kesehatan. [ipl/suf]






