Jakarta (beritajatim.com) – Menteri Haji dan Umrah (Menhaj) RI, Mochamad Irfan Yusuf, menegaskan bahwa Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Evaluasi Penyelenggaraan Ibadah Haji Tahun 1447 H/2026 M menjadi momentum strategis untuk melakukan konsolidasi nasional. Forum ini dirancang untuk merumuskan langkah perbaikan menyeluruh pada musim haji berikutnya.
Penegasan tersebut disampaikan Menhaj saat membuka secara resmi jalannya Rakernas Evaluasi Penyelenggaraan Ibadah Haji yang berlangsung di Lapangan Makodau, Jakarta, pada Sabtu (4/7/2026).
Wartawan beritajatim.com, Muhammad Isnan yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH) Kemenhaj RI melaporkan, pembukaan rakernas ini dihadiri oleh jajaran petinggi kementerian dan instansi sektoral guna menyatukan data operasional pasca-fase kepulangan jemaah.
Dalam pidato pembukaannya, Menhaj menyampaikan apresiasi mendalam kepada seluruh jajaran Kemenhaj, Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH), serta instansi terkait yang telah mencurahkan seluruh waktu, tenaga, dan pikiran demi menyukseskan operasional haji tahun ini.
“Saya menyampaikan terima kasih kepada seluruh peserta yang telah bekerja keras memberikan waktu, tenaga, dan pikiran dalam pelaksanaan penyelenggaraan ibadah haji. Berkat kerja sama seluruh jajaran, kita menerima banyak apresiasi atas pelayanan haji tahun ini,” kata Menhaj Mochamad Irfan Yusuf.
Patahkan Keraguan Publik dan Ukir Sejarah
Dalam kesempatan itu, Menhaj sempat mengenang kembali masa-masa awal berdirinya Kemenhaj sebagai kementerian baru. Ia mengakui banyak pihak eksternal sempat meragukan kapasitas kelembagaan baru tersebut dalam memikul tanggung jawab masif untuk mengelola manajemen haji reguler.
Tantangan kala itu terasa berlipat karena pembentukan struktur internal kementerian masih berjalan dan pembahasan regulasi bersama Komisi VIII DPR RI belum sepenuhnya final, sementara lini masa tahapan operasional haji sudah bergulir di lapangan.
“Ketika itu banyak yang mengatakan, jika kita mampu menyelenggarakan haji saja sudah merupakan sebuah keberhasilan. Alhamdulillah, pada 1 Juli lalu kita membuktikan bahwa Kemenhaj mampu menorehkan sejarah dengan sukses menyelenggarakan ibadah haji tahun 2026. Bahkan, banyak pihak menyebut penyelenggaraan haji tahun ini sebagai salah satu yang terbaik yang pernah ada,” urainya secara optimistis.
Secara khusus, Menhaj memberikan pujian kepada Wakil Menteri Haji (Wamenhaj) yang dinilai sangat progresif dalam melakukan supervisi langsung. Wamenhaj secara konsisten memantau pergerakan arus pelayanan jemaah di Arab Saudi secara riil di lapangan.
“Beliau terus berkeliling, mengingatkan teman-teman di lapangan terhadap berbagai hal yang perlu diperbaiki. Alhamdulillah, hasilnya dapat kita rasakan bersama,” tambahnya.
Kendati banjir pujian dan apresiasi dari berbagai elemen masyarakat serta instansi, Menhaj mengingatkan dengan tegas agar seluruh jajaran birokrasi Kemenhaj tidak cepat berpuas diri. Ia meminta capaian positif ini dijadikan bahan bakar untuk terus menelurkan inovasi baru.
Melalui forum Rakernas ini, seluruh catatan kritis, kendala di lapangan, hingga kelemahan sistemis wajib dibuka secara transparan untuk dicarikan solusi bersama tanpa ada budaya saling menyalahkan.
“Kita tidak boleh terlena oleh berbagai apresiasi dan ucapan selamat. Kita sadar masih banyak kekurangan yang harus diperbaiki. Rakernas evaluasi ini menjadi kesempatan bagi kita untuk membuka seluruh catatan, mengidentifikasi setiap kelemahan, dan menyusun langkah perbaikan secara bersama-sama tanpa saling menyalahkan. Semua dilakukan demi memberikan pelayanan yang lebih baik kepada jemaah pada tahun-tahun mendatang,” tegas Menhaj.
Pihaknya berharap Rakernas ini mampu memformulasikan draf rekomendasi kebijakan yang konkret, taktis, dan aplikatif sebagai cetak biru penyempurnaan musim haji mendatang agar roda transformasi layanan haji nasional terus bergerak maju. [ian/MCH]






