RINGKASAN BERITA:
- Ketua Komisi VIII DPR RI Marwan Dasopang mengonfirmasi bahwa pengelolaan haji 2026 sejauh ini berjalan lebih baik dan terkelola secara rapi.
- DPR RI meminta Kemenhaj RI memperketat mitigasi layanan transportasi guna mencegah keterlambatan bus jemaah selama fase Armuzna.
- Pendorongan massal jemaah haji reguler dari hotel Makkah menuju Arafah dijadwalkan bertahap dalam tiga gelombang pada 8 Dzulhijjah.
- Satgas Arafah mulai digeser ke lokasi maktab sejak pagi hari untuk mengunci kesiapan sarana pemondokan, sanitasi, dan katering jemaah.
Makkah (beritajatim.com) – Ketua Komisi VIII DPR RI, Marwan Dasopang, mengakui bahwa tata kelola dan manajemen penyelenggaraan ibadah haji oleh Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI pada musim haji 1447 H/2026 M berjalan jauh lebih baik dan teratur dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Kendati operasional pelayanan dinilai aman dan berada di jalur yang benar (on the track), legislatif menegaskan bahwa pengawasan ketat saat ini wajib difokuskan pada kesiapan mitigasi layanan transportasi di fase puncak Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).
Wartawan beritajatim.com, Muhammad Isnan yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH) Kemenhaj RI melaporkan dari Arab Saudi, pengakuan objektif dari pihak parlemen ini disampaikan usai melakukan pemantauan sirkulasi pelayanan jemaah secara berkala.
Penilaian positif ini memberikan jaminan ketenangan yang konkrit bagi pihak keluarga di tanah air sekaligus mengikis kekhawatiran jemaah, membuktikan bahwa standardisasi perlindungan hak-hak tamu Allah di bawah kendali pemerintah berjalan optimal and responsif.
“Untuk sementara sampai sekarang ini mudah-mudahan terus belum ada kendala yang berarti. Jemaah masih terlayani dengan baik, masih on the track. Namun demikian, dari hari ke hari kita terus ingin mendukung pemerintah, membantu pemerintah,” ujar Marwan Dasopang saat memberikan keterangan pers di Jeddah, Makkah, Rabu (22/5/2026).
Marwan menilai keluhan-keluhan yang jamak beredar di ruang publik musim ini sama sekali bukan cerminan dari kegagalan sistemik sistem makro Kemenhaj, melainkan sebatas riak kasus per kasus yang lazim terjadi dalam mobilisasi massa skala besar.
“Rasanya pelayanan sekarang ini sudah bisa termanage dengan baik kalaupun ada keluhan. Itu kan orang per orang, kecil tidak bagian dari kesalahan manajemen,” tuturnya secara objektif.
Mengingat fase kritis Armuzna sudah di depan mata, Komisi VIII DPR meminta jajaran PPIH Arab Saudi mengantisipasi secara rigid potensi kemacetan and keterlambatan armada bus penjemput yang selama ini kerap menjadi titik lemah operasional.
“Maka sekarang tinggal fokus di Armuzna. Armuzna inilah nanti yang kita harapkan tidak ada problem. Biasanya persoalannya kan angkutan, busnya tidak sampai, busnya terlambat,” tegas Marwan melayangkan poin pengawasan.
Merespons atensi legislatif, Kemenhaj RI memastikan seluruh pertahanan logistik, katering, dan rekayasa jalur telah dimatangkan secara utuh di bawah komando tunggal negara. Seluruh jemaah haji reguler yang kini telah terkonsentrasi di Makkah bersiap digerakkan menuju pemondokan maktab Arafah.
Juru Bicara Kemenhaj, Maria Assegaff, mengumumkan bahwa proses pendorongan massal dari hotel menuju Padang Arafah akan resmi dieksekusi pada 8 Dzulhijjah secara bertahap guna menghindari penumpukan massa di lobi hotel.
Skema transportasi makro tersebut diplot ke dalam tiga gelombang keberangkatan resmi, yakni pada pukul 07.00, pukul 11.30, dan pukul 16.30 Waktu Arab Saudi (WAS).
“Besok, 8 Dzulhijjah, pendorongan jemaah haji Indonesia dari hotel menuju Arafah akan mulai dilakukan bertahap. Karena itu, kami mengimbau seluruh jemaah untuk mematuhi jadwal, mengikuti arahan petugas, tidak bergerak sendiri, dan tidak terpisah dari rombongan,” papar Maria dari pusat koordinasi data, Minggu (24/5/2026).
Demi mengamankan hak ruang dan kenyamanan jemaah, Satuan Tugas (Satgas) Arafah dilaporkan sudah mulai diberangkatkan ke lokasi Masyair sejak pukul 07.00 WAS untuk melakukan sterilisasi akhir.
Perangkat kedinasan dikerahkan penuh guna mengunci kesiapan tenda bebas dari kaveling ilegal, pasokan katering boks makanan siap santap (ready to eat), pemenuhan obat-obatan klinik, penataan toilet, hingga aktivasi sistem pelindungan jemaah agar pelaksanaan hari wukuf berjalan tertib, aman, nyaman, dan sah.
“Fase Armuzna adalah tahapan paling penting dan paling padat. Karena itu, seluruh layanan harus benar-benar siap agar jemaah dapat menjalankan puncak ibadah haji dengan tertib, aman, nyaman, dan khusyuk,” pungkas Maria Assegaff. [ian/MCH]






