Probolinggo (beritajatim.com) – Pemadaman listrik bergilir yang terjadi di sejumlah wilayah Kota Probolinggo dalam beberapa hari terakhir dikeluhkan para pelaku usaha. Selain mengganggu aktivitas usaha, pemadaman juga menyebabkan kerugian materiil akibat rusaknya produk hingga kematian hewan ternak yang bergantung pada pasokan listrik.
Salah satu yang terdampak adalah usaha es krim dan es drop milik Margi yang berlokasi di Jalan Mastrip Gang Ukiran, Kelurahan Kedopok, Kecamatan Kedopok, Kota Probolinggo. Pemadaman listrik membuat produk yang tersimpan mencair dan tidak lagi layak dijual.
Syahrul Ulum, salah satu pegawai usaha tersebut, mengaku kerugian tidak hanya berasal dari produk yang rusak, tetapi juga dari permintaan penggantian barang oleh pelanggan.
“Kalau listrik padam, es krim mencair. Setelah cair, rasa-rasa yang seharusnya terpisah bisa bercampur sehingga kualitasnya berubah dan tidak bisa dijual lagi. Toko maupun sekolah yang menjadi pelanggan biasanya meminta retur atau penggantian barang. Itu yang menjadi kerugian bagi kami,” ujar Syahrul saat ditemui, Selasa (23/6/2026).
Menurutnya, dampak pemadaman tidak hanya dirasakan di Kota Probolinggo, tetapi juga di wilayah distribusi usaha mereka seperti Bantaran, Kraksaan, dan Maron yang turut mengalami pemadaman.
“Kalau sudah cair, produk tidak bisa dikembalikan ke pabrik. Jadi kerugiannya harus kami tanggung sendiri,” tambahnya.
Keluhan serupa juga disampaikan Boy, pengusaha penjual ikan hias dan pakan ikan di Jalan Ir. H. Juanda, Kelurahan Tisnonegaran, Kota Probolinggo. Ia mengaku pemadaman listrik sangat berpengaruh terhadap kelangsungan hidup ikan-ikan yang dijualnya.
Menurut Boy, sejumlah jenis ikan hias membutuhkan pasokan oksigen yang stabil melalui aerator. Ketika listrik padam, ia harus mengandalkan baterai atau sumber daya cadangan yang tidak selalu tersedia.
“Ikan hias sangat bergantung pada aerator. Saat listrik mati, kami harus menggunakan baterai atau power bank. Kalau tidak siap, banyak ikan yang mati,” katanya.
Ia memperkirakan tingkat kematian ikan saat terjadi pemadaman bisa mencapai 30 hingga 40 persen, bahkan lebih jika pemadaman berlangsung lama.
“Kerugian minimal bisa mencapai Rp200 ribu sampai Rp300 ribu per hari. Belum sempat laku, ikannya sudah mati duluan,” ungkapnya.
Boy juga menyoroti ketimpangan yang dirasakan pelanggan PLN. Menurutnya, pelanggan dikenai denda apabila terlambat membayar tagihan listrik, namun ketika terjadi pemadaman yang menyebabkan kerugian usaha, tidak ada kompensasi yang dirasakan secara langsung.
“Kalau telat bayar listrik sehari saja bisa kena denda. Tapi ketika listrik padam dan kami rugi, kami yang harus menanggung sendiri. Ini yang menjadi keluhan para pelaku usaha,” tegasnya.
Para pelaku usaha berharap PLN dapat meningkatkan keandalan pasokan listrik serta memberikan informasi yang lebih cepat dan jelas terkait jadwal pemadaman agar pelaku usaha dapat melakukan langkah antisipasi untuk meminimalkan kerugian. (rap/but)






