Ringkasan Berita
* PT Terminal Teluk Lamong (TTL) dan APTRINDO Surabaya berkolaborasi mengoptimalkan Terminal Booking System (TBS) untuk menekan kepadatan arus truk.
* Saat ini, kepatuhan jadwal kedatangan masih berada di angka 33%. Melalui dialog terbuka, kedua belah pihak sepakat untuk meningkatkan disiplin operasional dan mengkaji sejumlah fasilitas baru, seperti jalur khusus kontainer pendingin (reefer), guna menciptakan layanan logistik yang lebih efisien dan teratur di Jawa Timur.
————————————————
Surabaya (beritajatim.com) – PT Terminal Teluk Lamong (TTL) dan DPC Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (APTRINDO) Kota Surabaya memperkuat kolaborasi untuk meningkatkan efisiensi rantai pasok nasional. Sinergi ini difokuskan pada optimalisasi Terminal Booking System (TBS) guna memastikan kelancaran arus truk di area pelabuhan.
Dalam pertemuan strategis yang berlangsung di Surabaya, Kamis (4/6), manajemen TTL bersama pengurus APTRINDO membahas berbagai solusi operasional, termasuk pola kedatangan kendaraan yang menjadi kunci efisiensi terminal.
Direktur Utama PT Terminal Teluk Lamong, David P. Sirait, menegaskan bahwa masukan dari pelaku usaha trucking adalah elemen krusial dalam evaluasi layanan. Menurutnya, meskipun kapasitas lapangan penumpukan TTL mencapai 1,4 juta TEUs per tahun, efisiensi tetap bergantung pada distribusi kedatangan truk yang merata.
“Tantangan kita bukan pada kapasitas, melainkan pola kedatangan. Jika semua truk datang di slot waktu yang sama, antrean akan tak terelakkan. Karena itu, kedisiplinan terhadap Terminal Booking System adalah kunci utama,” ujar David.
Sejak Maret 2026, TTL telah menerapkan TBS Stage 2 yang membagi slot waktu operasional menjadi blok empat jam. Namun, data menunjukkan tingkat kepatuhan saat ini baru mencapai 33 persen. Kedisiplinan pada jadwal yang telah dipesan diyakini mampu menekan antrean di gerbang (gate) dan meningkatkan produktivitas bongkar muat secara signifikan.
Ketua DPC APTRINDO Kota Surabaya, I Wayan Sumadita, menyambut baik keterbukaan manajemen TTL. Ia menyatakan bahwa asosiasi berkomitmen mendukung kebijakan yang mampu meningkatkan efisiensi logistik.
“Kami mengapresiasi ruang dialog ini. APTRINDO siap mendorong anggota untuk lebih disiplin mengikuti jadwal. Kami juga telah memberikan sejumlah masukan, seperti pengembangan jalur khusus reefer container dan peningkatan koordinasi dengan perusahaan pelayaran agar operasional di lapangan semakin lancar,” jelas Wayan.
Selain diskusi mengenai TBS, dalam pertemuan tersebut dibahas pula pemanfaatan fasilitas Green Shelter atau area tunggu khusus berkapasitas 66 truk. Fasilitas ini disiapkan agar pengemudi memiliki tempat istirahat yang nyaman sembari menunggu giliran masuk terminal sesuai jadwal, sehingga kepadatan di akses jalan operasional dapat diminimalisir.
Kedua belah pihak sepakat bahwa kolaborasi berkelanjutan ini adalah langkah nyata dalam mendukung daya saing logistik nasional, di mana kepastian waktu dan efisiensi operasional menjadi prioritas utama bagi seluruh ekosistem pelabuhan di Jawa Timur.[rea]






