Ringkasan Berita
* PT PGN (Persero) Tbk mendukung transformasi Green Hospital di RSUP dr. Sardjito, Yogyakarta, melalui penyediaan instalasi gas bumi berkapasitas 30.000 meter kubik per bulan.
* Langkah ini bertujuan untuk meningkatkan efisiensi operasional rumah sakit, menekan konsumsi BBM jenis solar, serta menurunkan emisi karbon. Kerjasama ini menjadi bagian dari komitmen PGN dalam menyediakan energi yang stabil, bersih, dan berkelanjutan bagi sektor layanan publik nasional.
————————————————-
Surabaya (beritajatim.com) – PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN) resmi memperluas pemanfaatan gas bumi di Daerah Istimewa Yogyakarta. Kali ini, Subholding Gas Pertamina tersebut menyasar sektor kesehatan dengan memasang instalasi gas bumi di RSUP dr. Sardjito, Sleman, guna mendukung operasional rumah sakit yang lebih efisien dan ramah lingkungan.
Direktur Infrastruktur & Teknologi PGN, Hery Murahmanta, menegaskan bahwa rumah sakit sebagai layanan publik vital membutuhkan pasokan energi yang stabil selama 24 jam. Pemanfaatan gas bumi ini menjadi langkah strategis untuk mewujudkan konsep Green Hospital.
“Kami mendukung transformasi layanan kesehatan agar lebih ramah lingkungan. Gas bumi bukan hanya andal, tetapi juga efisien dan rendah emisi,” ujar Hery saat peresmian instalasi di Yogyakarta, Rabu (4/6/2026).
Peralihan energi ini memberikan solusi nyata bagi RSUP dr. Sardjito. Direktur Layanan Operasional RSUP dr. Sardjito, dr. Riat El Khair, mengungkapkan bahwa penggunaan gas bumi akan menekan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) jenis solar yang selama ini digunakan untuk kebutuhan boiler dan dapur gizi.
“Dengan kapasitas hampir 1.000 tempat tidur yang beroperasi tanpa henti, kebutuhan energi kami sangat besar. Adanya gas bumi membuat operasional lebih efisien dan mendukung target kami menjadi rumah sakit hijau,” jelas dr. Riat.
General Manager Sales and Operation Region III PGN, Hedi Hedianto, menambahkan bahwa instalasi tersebut dirancang untuk menyuplai sekitar 30.000 meter kubik gas per bulan. Proses pengerjaan infrastruktur ini memakan waktu sekitar delapan bulan sebelum akhirnya resmi beroperasi penuh.
Selain efisiensi biaya, langkah ini juga sejalan dengan upaya pemerintah dalam menekan emisi karbon nasional. PGN berkomitmen untuk terus memperluas pemanfaatan energi domestik yang lebih bersih ke berbagai fasilitas publik lainnya, guna memperkuat kemandirian energi Indonesia.[rea]






