Ringkasan Berita :
* PT Pelindo Terminal Petikemas (SPTP) secara nyata mendukung ketahanan fiskal dan pembangunan nasional melalui penyetoran kontribusi kepada negara sebesar Rp1,73 triliun sepanjang tahun 2025, yang bersumber dari akumulasi setoran pajak, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), serta pembayaran nilai konsesi.
* Selain pemenuhan kewajiban finansial yang mencerminkan kepatuhan regulasi, anak usaha Pelindo Group ini terus berkomitmen memacu modernisasi pelabuhan guna menekan turn around time atau waktu kunjungan kapal di terminal.
* Upaya efisiensi operasional ini krusial dalam mempercepat rantai distribusi logistik, memotong biaya industri, serta meningkatkan daya saing logistik Indonesia agar mampu memegang peranan strategis dalam rantai pasok global (Global Value Chain).
————————————————–
Surabaya (beritajatim.com) – PT Pelindo Terminal Petikemas (SPTP) secara nyata memperkuat fondasi fiskal nasional lewat setoran kontribusi kepada negara yang mencapai Rp1,73 triliun sepanjang tahun buku 2025.
Angka fantastis ini bersumber dari akumulasi pembayaran pajak, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), serta nilai konsesi. Selain pemenuhan kewajiban finansial, anak usaha Pelindo Group ini terus memacu modernisasi operasional di seluruh wilayah kerja untuk memangkas biaya logistik nasional.
Corporate Secretary PT Pelindo Terminal Petikemas, Widyaswendra, menegaskan bahwa pemenuhan kewajiban kepada negara merupakan komitmen fundamental perusahaan dalam mendukung pembangunan nasional.
Arus kas yang disetorkan ke kas negara tersebut diharapkan mampu memberi ruang gerak lebih bagi fiskal pemerintah untuk mendanai program-program strategis demi kesejahteraan masyarakat.
Setoran masif SPTP ke kas negara terbagi ke dalam tiga instrumen keuangan utama. Berdasarkan data keuangan audited tahun 2025, berikut adalah rincian kontribusinya:
* Pajak: Nilai setoran pajak tercatat sebesar Rp1,27 triliun, yang mencakup Pajak Penghasilan (PPh), Pajak Pertambahan Nilai (PPN), dan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB).
* Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP): Perusahaan berkontribusi sebesar Rp52 miliar melalui berbagai instrumen pungutan resmi non-pajak.
* Nilai Konsesi: Sebagai bentuk kompensasi hak operasional pelabuhan kepada pemerintah, SPTP menyetorkan dana konsesi sebesar Rp408 miliar.
“Kepatuhan dan transparansi keuangan menjadi prinsip utama kami. Kami ingin memastikan setiap aktivitas bisnis yang dijalankan SPTP memberikan dampak ekonomi yang nyata, tidak hanya bagi korporasi tetapi langsung masuk ke sistem pembiayaan negara,” ujar Widyaswendra.
Di luar kontribusi nominal, kontribusi terbesar SPTP sebenarnya terletak pada transformasi layanan pelabuhan. Sejak merger Pelindo, SPTP gencar melakukan standardisasi dan digitalisasi proses bisnis guna memangkas turn around time yakni waktu yang dihabiskan kapal dari mulai bersandar hingga kembali berlayar.
Melalui pemanfaatan sistem operasi terminal yang terintegrasi seperti Terminal Operating System (TOS) Nusantara, kecepatan bongkar muat (box per hour) meningkat signifikan. Imbasnya, waktu singgah kapal di pelabuhan berkurang drastis dari yang sebelumnya rata-rata 2–3 hari menjadi kurang dari 24 jam di beberapa terminal utama.
Waktu sandar yang lebih pendek ini otomatis memberikan efek domino yang menguntungkan bagi para pelaku logistik dan pemilik barang (shipper). Perusahaan pelayaran dapat menghemat biaya operasional kapal (sewa, bahan bakar, dan kru), sementara pemilik barang mendapatkan kepastian waktu distribusi yang lebih cepat dan efisien.
Upaya pembenahan internal yang dilakukan SPTP ini menjadi strategi krusial untuk mendongkrak peringkat logistik Indonesia secara global. Dengan biaya logistik yang lebih murah dan pelabuhan yang andal, industri manufaktur dalam negeri dapat menawarkan harga produk yang jauh lebih kompetitif di pasar internasional.
Langkah standardisasi operasional dari ujung barat hingga ujung timur Indonesia dinilai para pengamat sebagai fondasi kuat bagi pemerataan ekonomi. Konektivitas antarpulau yang semakin lancar membuat ketergantungan logistik pada satu titik wilayah dapat dikurangi, sekaligus mempercepat integrasi produk lokal ke dalam rantai pasok global (Global Value Chain).
Dengan performa fiskal yang kokoh dan komitmen operasional yang adaptif, PT Pelindo Terminal Petikemas membuktikan diri tidak sekadar menjadi operator pelabuhan, melainkan motor penggerak ekonomi yang mengamankan pendapatan negara sekaligus memodernisasi urat nadi logistik Indonesia.[rea]






