RINGKASAN BERITA:
- Puncak Makkah Clock Tower memancarkan cahaya hijau terang menandai masuknya 1 Zulhijjah 1447 H.
- Fase puncak wukuf di Padang Arafah resmi ditetapkan jatuh pada Selasa, 26 Mei 2026.
- PPIH mengimbau jemaah menghentikan aktivitas sunah berlebih demi menghemat stamina fisik.
- Sengatan suhu ekstrem di Makkah menyentuh 44 derajat Celsius rawan memicu dehidrasi akut.
Makkah (beritajatim.com) – Puncak menara ikonik Makkah Clock Tower di kompleks Abraj Al Bait memancarkan pendar cahaya hijau terang bertepatan dengan berkumandangnya azan Maghrib untuk menandai secara resmi masuknya tanggal 1 Zulhijjah 1447 Hijriah di Kota Makkah, Arab Saudi, Senin (18/5/2026).
Fenomena visual penanda waktu ini sekaligus menjadi alarm spiritual bagi Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) dan ratusan ribu jemaah asal Indonesia bahwa fase puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna) kini tinggal menghitung hari.
Wartawan beritajatim.com, Muhammad Isnan yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH) Kemenhaj RI melaporkan dari Arab Saudi, tradisi tata pencahayaan di menara jam tertinggi di dunia tersebut secara konsisten digunakan oleh Otoritas Arab Saudi sebagai medium informasi publik.
Berdasarkan ketetapan penanggalan tersebut, puncak ibadah haji atau wukuf di Padang Arafah 9 Dzulhijjah dipastikan jatuh pada Selasa, 26 Mei 2026, disusul Hari Raya Idul Adha pada Rabu, 27 Mei 2026.
Pengingat emosional ini direspons cepat oleh PPIH untuk memperketat pengawasan terhadap pergerakan jemaah, termasuk rombongan besar asal berbagai Kabupaten/Kota di Jawa Timur yang bergabung dalam Embarkasi Surabaya (SUB).
Dengan masuknya etape final ini, PPIH Arab Saudi mengeluarkan instruksi tegas agar jemaah segera menghentikan aktivitas ibadah sunah luar ruang yang menguras fisik secara berlebihan.

Jemaah diimbau tidak memforsir diri melakukan umrah sunah berulang kali, berbelanja jauh, atau memaksakan diri shalat fardhu ke Masjidil Haram di bawah terik matahari Makkah yang saat ini menyentuh suhu panas ekstrem 44 derajat Celsius dengan kelembapan rendah.
Kebugaran fisik menjadi syarat mutlak karena prosesi wukuf di Arafah, mabit di Muzdalifah, hingga rute jalan kaki melontar jumrah sepanjang 4,5 kilometer melalui Terowongan Muaisim menuju Jamarat akan sangat menguras energi.
Seluruh konsentrasi jemaah kini wajib diarahkan untuk persiapan pendorongan massal yang dijadwalkan mulai bergerak serentak pada 8 Dzulhijjah atau Senin, 25 Mei mendatang.
Guna mengikis kecemasan jemaah dan keluarga di tanah air, Kemenhaj memastikan seluruh lini infrastruktur pelindungan telah siap 100 persen. Pemerintah telah mengamankan pemisahan skema katering dengan garansi 15 porsi makanan siap santap (ready to eat) di Armuzna dan 6 porsi di hotel, menyiagakan Tim Khusus (Timsus) Mina untuk mengawal lansia, serta memberlakukan skema murur (melintas Muzdalifah tanpa turun bus) bagi jemaah risiko tinggi agar rangkaian puncak haji berjalan aman dan nyaman. [ian/MCH]







