Blitar (beritajatim.com) — Di usianya yang baru menginjak 3 tahun, Enzo Yosef Pratama semestinya tengah asyik berlari dan tertawa lepas bersama teman-teman sebayanya.
Namun, realitas memilukan harus dihadapi balita asal RT 01/RW 01 Desa Resapombo, Kecamatan Doko, Kabupaten Blitar ini.
Balita usia 3 tahun jni terpaksa berjuang di ranjang pesakitan demi mempertahankan hidupnya akibat kelainan jantung bawaan.
Vonisi medis menyebutkan, satu-satunya jalan keselamatan bagi Enzo adalah melalui meja operasi di Rumah Sakit Jantung Harapan Kita, Jakarta. Namun, rute menuju kesembuhan itu nyaris terputus oleh tembok tebal bernama kemiskinan.
Sang ayah, Fendi Setyawan, tidak memiliki kepesertaan BPJS Kesehatan. Biaya operasi pemasangan alat pacu jantung yang menembus angka puluhan juta rupiah jelas menjadi sesuatu yang mustahil dijangkau oleh kantong keluarga sederhana ini.
Di tengah keputusasaan keluarga Fendi, Yayasan Jantung Indonesia (YJI) Cabang Malang hadir membawa secercah harapan. Mereka bergerak cepat melakukan pendampingan medis.
Menyadari besaran biaya yang berada jauh di luar kesanggupan keluarga, YJI mengambil langkah taktis yakni mengirimkan secarik surat permohonan bantuan kepada Bupati Blitar, Rijanto.
Langkah ini ternyata menjadi titik balik bagi nasib sang balita. Surat tersebut sukses mengetuk pintu nurani orang nomor satu di Bumi Penataran itu.
Mengetahui ada nyawa warganya yang sedang berpacu dengan waktu, Rijanto menolak tunduk pada rumitnya prosedur birokrasi. Alih-alih sekadar mendisposisi surat atau menunggu pencairan dana bantuan sosial pemerintah yang memakan waktu, Bupati Rijanto mengambil inisiatif cepat.
Ia mengajak jajaran Kepala Dinas di lingkungan Pemkab Blitar untuk merogoh kocek pribadi dan bergotong royong membantu biaya pengobatan Enzo.
“Alhamdulillah, semalam bapak bersama beberapa kepala dinas lainnya patungan. Diperkirakan untuk operasi awal sudah bisa tercukupi,” ungkap Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Kabupaten Blitar, Agung Wicaksono, menyampaikan kabar baik tersebut pada Rabu (8/7/2027).
Bantuan ini menjadi bukti konkret bahwa di balik sekat jabatan dan formalitas birokrasi, rasa kemanusiaan tetap menjadi panglima tertinggi ketika nyawa seorang anak dipertaruhkan.
Berbekal dana gotong royong dari para pejabat daerah dan pendampingan YJI Cabang Malang, Enzo kini telah diberangkatkan ke Jakarta. Sebelumnya, balita tangguh ini sempat menjalani perawatan medis pemulihan selama lima hari untuk menstabilkan kondisinya.
Saat ini, Enzo telah berada di Rumah Sakit Jantung Harapan Kita, menanti jadwal tindakan operasi krusial yang akan menentukan masa depannya.
Bagi keluarga Enzo, uluran tangan dari Bupati dan jajaran Pemkab Blitar bukan sekadar lembaran rupiah.
Bantuan tersebut adalah napas penyambung hidup, sebuah jaminan bahwa di tengah keterbatasan finansial yang mencekik, putra kecil mereka tetap memiliki hak untuk hidup, tumbuh, dan kelak merajut cita-citanya di masa depan.
Kisah Enzo menjadi pengingat hangat bagi publik: kepedulian kolektif sekecil apa pun, nyatanya mampu menghadirkan keajaiban yang menyelamatkan nyawa.
“Semoga uluran tangan bapak bupati bisa membantu mimpi orang tua agar sang putra tercinta bisa sembuh dan bermain lepas seperti anak lainnya,” tandasnya. (owi/ted)






