Kediri (beritajatim.com) – Kisah haru tiga bersaudara yang tinggal di Jalan Kembang Kuning, Dusun Kandat, Desa Kandat, Kecamatan Kandat, menarik perhatian besar dari Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana.
Di usia yang masih sangat belia, Arvino (7) serta adik kembarnya Arcelio dan Arsenio (2) harus tumbuh tanpa kasih sayang seorang ibu yang telah berpulang sebulan lalu. Kabar mengenai perjuangan kakek dan nenek mereka dalam mencukupi kebutuhan harian pun sampai ke telinga orang nomor satu di Kabupaten Kediri tersebut, yang kemudian memutuskan untuk berkunjung langsung pada Kamis (7/5/2026).
Dalam pertemuan penuh suasana emosional tersebut, Sholikah (50), sang nenek, menceritakan beban berat yang dipikulnya sejak putrinya meninggal dunia akibat sakit pada April lalu. Kondisi semakin sulit karena ayah dari ketiga bocah tersebut diketahui lari dari tanggung jawab.
“Ke sini datang pas istrinya tidak ada (meninggal) tapi tidak ngomong ke saya sama sekali anaknya bagaimana,” ungkap Sholikah dengan nada pilu menceritakan sikap menantunya yang seolah tidak peduli pada nasib darah dagingnya sendiri.
Untuk menyambung hidup dan membeli kebutuhan pokok seperti susu formula serta popok, Sholikah mengandalkan usaha kecil penggilingan bumbu, kopi, dan kelapa yang hasilnya tidak menentu. Jika sedang ramai, ia biasanya mengantongi sekitar Rp20 ribu per hari.
Terkadang, ia juga mendapat tambahan dari pesanan madumongso dan sambal pecel yang dikerjakan bersama suaminya, Putut Sri Harmisworo (56). Meski serba pas-pasan, Sholikah tetap menunjukkan ketegaran luar biasa demi cucu-cucunya.
“Pokoknya ada saja rezeki, nggak tau dari mana Insyaalloh saya bisa, buat beli susu, pampers, kalau minta makanan saya siapin pokoknya semampu saya,” ucapnya penuh syukur.
Melihat Sholikah yang tak kuasa membendung air mata saat bercerita, Mas Dhito terus berupaya menguatkan mental sang nenek agar tetap semangat menjadi sandaran bagi ketiga cucunya. Beliau menyadari betul bahwa tugas mengasuh tiga anak kecil di usia senja dengan keterbatasan ekonomi adalah ujian yang luar biasa berat.
“Apa yang ibu jalani pasti tidak mudah. Ibu harus kuat,” kata Mas Dhito dengan tulus sambil menenangkan Sholikah yang terisak.
Sebagai langkah konkret, Mas Dhito telah menyiapkan serangkaian program bantuan untuk menjamin masa depan ketiga bocah tersebut serta kemandirian ekonomi keluarga Sholikah. Untuk si sulung Arvino yang kini duduk di kelas 1 SD, Mas Dhito berencana menyekolahkannya di Sekolah Rakyat (SR).
Selain itu, bantuan peralatan usaha dan pelatihan manajemen keuangan akan diberikan agar penghasilan keluarga ini bisa meningkat. Tak hanya itu, kondisi fisik rumah yang kurang layak juga menjadi prioritas perbaikan pemerintah daerah.
“Rumahnya tadi beberapa bagian ada yang masih bolong, kasihan kalau hujan angin pasti masuk ke dalam. Rumahnya akan kita perbaiki juga,” pungkas Mas Dhito menutup kunjungannya.
Sangat menyentuh melihat respon cepat Mas Dhito terhadap kondisi keluarga Nenek Sholikah. Dukungan berupa perbaikan rumah dan pendidikan untuk Arvino tentu akan sangat meringankan beban mereka di masa depan. [ADV PKP/nm]






