Kediri (beritajatim.com) – Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana menaruh harapan besar pada sektor peternakan daerah dengan mendorong agar kontes sapi Kabupaten Kediri dapat diselenggarakan secara rutin setiap tahun. Dorongan tersebut disampaikan oleh bupati yang akrab disapa Mas Dhito saat meninjau sekaligus menyerahkan hadiah bagi para pemenang kontes sapi yang berlokasi di Lapangan Desa Wonorejo, Kecamatan Wates, Rabu (6/5/2026).
Setelah sempat vakum cukup lama sejak terakhir diadakan pada 2019, kembalinya ajang ini pada tahun 2026 disambut antusias sebagai momentum kebangkitan para peternak lokal. Mas Dhito menegaskan bahwa kualitas penyelenggaraan kontes ini harus terus ditingkatkan agar mampu bersaing dengan wilayah lain di tingkat provinsi.
“Tahun depan harus bisa diselenggarakan lagi dengan euforia yang lebih besar. Harapan saya ini bisa jadi kontes ternak terbaik di Jawa Timur,” kata Mas Dhito memberikan target tinggi bagi jajaran dinas terkait.
Kontes yang berlangsung selama dua hari sejak Selasa (5/5/2026) ini terbagi dalam tiga kategori utama yang menjadi tolok ukur keberhasilan budidaya ternak di Kediri, yakni kategori sapi Peranakan Ongole (PO), sapi hasil persilangan inseminasi buatan (IB), serta kategori kereman ekstrem yang selalu menjadi pusat perhatian pengunjung.
Daya tarik utama dalam ajang kali ini terlihat dari persaingan ketat 134 peserta yang berasal dari 26 kecamatan di seluruh Kabupaten Kediri. Pada kelas ekstrem, publik dibuat terpukau dengan munculnya sapi dengan bobot fantastis yang mencapai 1 ton 214 kg, membuktikan bahwa teknologi peternakan dan ketelatenan peternak Kediri telah berada di level yang sangat maju.
Mas Dhito memaparkan bahwa populasi sapi di Kabupaten Kediri terus menunjukkan tren positif, di mana pada tahun 2025 tercatat mencapai 216.886 ekor, meningkat dari angka 214.715 ekor pada tahun sebelumnya. Pertumbuhan populasi yang mencapai ratusan ribu ekor ini dinilai sebagai fondasi kuat untuk menopang program ketahanan pangan nasional.
Namun, bupati muda ini juga mengingatkan bahwa kejayaan sektor peternakan tidak boleh membuat semua pihak lengah, terutama terhadap ancaman penyakit menular. Beliau berkaca pada pengalaman pahit saat wabah PMK menyerang yang memaksa pemerintah daerah menutup pasar hewan demi memutus rantai penularan.
Sebagai langkah antisipasi, Mas Dhito menekankan pentingnya menjaga ketersediaan vaksin agar kesehatan hewan ternak selalu terlindungi.
“Sektor peternakan ini tidak boleh sampai lumpuh. Ketersediaan vaksin harus selalu terjaga untuk mencegah terjadinya wabah penyakit pada hewan ternak,” tegasnya di sela-sela kegiatan.
Selain menjadi ajang adu kualitas ternak, Mas Dhito berharap kontes tahunan ini nantinya dapat memicu gairah masyarakat, khususnya generasi muda, untuk terjun ke dunia peternakan. Ia meyakini bahwa potensi ekonomi di bidang ini sangat terbuka lebar bagi siapa saja yang mau belajar, tanpa harus memiliki latar belakang pendidikan formal di bidang peternakan. Bagi Mas Dhito, kunci sukses seorang peternak terletak pada karakter personal dalam merawat hewan pilihannya.
“Sektor peternakan ini tidak melulu orang yang bergerak di bidang peternakan, tapi bisa dilakukan secara otodidak atau yang punya kemampuan sungguh-sungguh. Ulet dan telaten kata kuncinya,” pungkasnya.
Melihat sapi dengan bobot lebih dari satu ton tentu menjadi pemandangan luar biasa yang menunjukkan potensi besar Kediri. [ADV PKP/nm]






