Makkah (beritajatim.com) – Mentari pagi di Jeddah baru saja merangkak naik, menyapu kaca-kaca megah Bandara Internasional King Abdulaziz dengan pendar keemasan pada Kamis (7/5/2026).
Di tengah keriuhan deru mesin pesawat dan aroma khas tanah suci, sebuah kursi roda bergerak perlahan, membawa seorang pria dengan gurat-gurat lelah namun bercahaya.
Abdul Hanan Arsyad (68) tak kuasa membendung bendungan air mata yang merembes di pelupuk matanya yang memerah. Bagi pria asal Lombok Tengah ini, setiap putaran roda itu adalah langkah yang ia impikan selama 14 musim tanam; sebuah perjalanan spiritual yang sempat terasa seperti fatamorgana di tengah hamparan sawah miliknya di Nusa Tenggara Barat.
Lelaki paruh baya yang tergabung dalam Kelompok Terbang (Kloter) 12 Lombok (LOP) ini menjadi bagian dari rombongan pertama yang menandai dimulainya kedatangan jemaah haji gelombang kedua. Wartawan beritajatim.com, Muhammad Isnan yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH) Kemenhaj RI melaporkan dari Arab Saudi, Hanan tampak berkali-kali menyeka wajahnya dengan sapu tangan, seolah tak percaya kaki rentanya telah berpijak di bumi para nabi.
“Saya terharu dengan panggilan Allah ini,” ucapnya lirih, suaranya bergetar menahan gejolak rasa syukur yang membuncah.
Di balik seragam batiknya, tersimpan sebuah narasi tentang cinta dan bakti seorang anak yang luar biasa. Sebagai petani padi yang penghasilannya hanya bergantung pada musim dan murahnya harga gabah, angka-angka untuk melunasi Biaya Perjalanan Ibadah Haji (BPIH) seringkali menjadi gunung yang sulit didaki oleh Hanan. Namun, doa-doa yang ia panjatkan di sela-sela waktu mencangkul sawah ternyata dijawab Tuhan melalui tangan darah dagingnya sendiri.
Putranya, dengan segala keringat dan perjuangannya, memutuskan untuk memikul beban biaya haji sang ayah. Ia meletakkan impian dunianya sendiri demi melihat sang ayah bersujud di depan Kakbah. “Anak saya yang melunasi biaya haji saya,” kata Hanan, air matanya kembali jatuh—kali ini bukan karena lelah, melainkan karena rasa bangga yang tak terlukiskan.
Di atas kursi roda itu, tidak ada kata-kata mewah yang keluar. Hanya sebuah doa tulus dari seorang ayah yang merasa telah berhasil mendidik anaknya dengan nilai-nilai langit.
“Saya berdoa agar anak saya menjadi anak yang berguna bagi agama, nusa, dan bangsa,” tuturnya, melangitkan harapan bagi sang putra yang kini menanti kabar dari seberang lautan.
Kehangatan sambutan di Bandara Jeddah pagi itu pun menjadi penawar rindu bagi jemaah asal NTB. Sahalil, rekan satu kloter Hanan, mengaku sempat merasa asing saat mendarat di negeri orang. Namun, rasa cemas itu seketika luruh saat seorang petugas haji Indonesia menyambutnya dengan sapaan akrab menggunakan bahasa khas Lombok.
“Rasanya seperti tidak jauh-jauh dari rumah, terasa hangat sekali sambutannya,” ungkap Sahalil dengan senyum merekah. Baginya, mendengar dialek bahasa ibu di tengah gurun Makkah adalah sebuah kemewahan batin yang membuat perjalanan ini terasa lebih ringan.
Kloter 12 LOP yang terdiri dari 273 jemaah asal Lombok Tengah dan 115 jemaah asal Lombok Timur ini mendarat tepat pukul 06.30 Waktu Arab Saudi. Kedatangan mereka menjadi pembuka bagi gelombang kedua yang akan terus mengalir hingga beberapa hari ke depan. Tak lama berselang, jemaah asal Aceh (BTJ) mendarat pukul 07.30, diikuti jemaah Solo (SOC) yang menggunakan jalur fast track pada 07.55.
Momentum kedatangan perdana gelombang kedua ini juga menjadi perhatian serius pemerintah. Sejumlah pejabat penting tampak hadir di area bandara, mulai dari Duta Besar LBBP RI untuk Kerajaan Arab Saudi, Abdul Aziz Ahmad, hingga Inspektur Jenderal Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI, Mayjen TNI (Purn) Dendi Suryadi.
Kehadiran mereka bersama Konsul Jenderal RI di Jeddah, Yusron B. Ambary, serta Kepala Daker Bandara Abdul Basir, memastikan bahwa pelayanan bagi tamu-tamu Allah ini tetap berada pada standar tertinggi.
Bagi Abdul Hanan Arsyad, segala protokoler dan kemegahan bandara hanyalah latar belakang. Inti dari perjalanannya adalah sebuah pembuktian; bahwa ikhtiar seorang petani tua dan bakti seorang anak muda telah bertemu di satu titik temu yang mulia: pintu gerbang menuju rida-Nya. Di Bandara King Abdulaziz, sebuah babak baru ibadah dimulai, diwarnai air mata syukur yang lebih bening dari embun pagi di sawah-sawah Lombok. [ian/MCH]






