Kediri (beritajatim.com) – Pemerintah Kota (Pemkot) Kediri melalui Dinas Pendidikan terus memperkokoh fondasi pendidikan inklusif dengan membekali para pendidik melalui Diklat Strategi Efektif Guru dalam Mendampingi Peserta Didik Penyandang Disabilitas. Kegiatan yang berlangsung, pada Rabu (6/5/2026) ini diikuti oleh 225 peserta yang terdiri dari Guru Kelas jenjang SD serta Guru Bimbingan Konseling (BK) jenjang SMP se-Kota Kediri.
Langkah ini diambil untuk memastikan bahwa setiap anak, tanpa memandang kondisi fisiknya, memiliki hak yang sama untuk mendapatkan akses pendidikan yang berkualitas, setara, dan memanusiakan.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Kediri, Mandung Sulaksono, saat membuka kegiatan tersebut menekankan bahwa pelatihan ini merupakan wujud nyata komitmen bersama dalam menghadirkan layanan pendidikan yang layak dan nyaman bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Pihaknya menyadari bahwa menciptakan lingkungan belajar yang ideal membutuhkan kesiapan mental dan kompetensi teknis dari para pengajar di lapangan.
“Ini merupakan bagian dari komitmen kita bersama untuk mewujudkan pendidikan inklusif di Kota Kediri dan memastikan bahwa semua anak, termasuk anak-anak penyandang disabilitas, bisa mendapatkan layanan pendidikan yang layak, nyaman, dan sesuai dengan kebutuhannya,” jelas Mandung dalam sambutannya.
Salah satu fokus utama dalam diklat ini adalah bagaimana para guru mampu mengenali variasi kebutuhan khusus yang sangat beragam. Mandung tidak menampik bahwa dalam praktiknya, guru sering kali menemui tantangan besar saat berhadapan dengan siswa disabilitas karena keterbatasan pemahaman terhadap kondisi spesifik sang anak.
“Yang menjadi kendala dan tantangan kami adalah kebutuhan khusus siswa itu bervariasi. Sedangkan tidak semua guru memahami. Maka dari itu guru harus sabar dan menguasai strategi awal untuk mendeteksi apa yang diinginkan anak berkebutuhan khusus,” ucapnya. Namun, beliau meyakini bahwa melalui kesabaran dan strategi yang tepat, potensi unik dari setiap anak disabilitas dapat digali secara maksimal.
Lebih lanjut, Mandung berpesan agar ekosistem sekolah, mulai dari pengawas, kepala sekolah, hingga guru harus bergerak selaras untuk membangun budaya sekolah yang menghargai perbedaan. Keberhasilan pendidikan inklusif tidak hanya terletak pada metode mengajar, tetapi pada seberapa besar lingkungan sekolah menerima keberagaman tersebut sebagai sebuah kekuatan.
Mandung mengajak para peserta untuk mengubah sudut pandang dalam melihat penyandang disabilitas. “Saya juga ingin mengajak kita semua untuk melihat anak-anak penyandang disabilitas bukan dari keterbatasannya, tetapi dari potensi yang mereka miliki. Dengan pendampingan yang tepat, mereka juga bisa berkembang dan berprestasi,” terangnya dengan penuh optimisme.
Menutup arahannya, Mandung menaruh harapan besar kepada ratusan guru yang hadir agar dapat menyerap materi diklat dengan sebaik-baiknya untuk kemudian diimplementasikan di sekolah masing-masing. Ia menekankan kembali bahwa kasih sayang, perhatian luar biasa, dan penguasaan teknik pendampingan adalah modal utama bagi seorang guru dalam mendampingi siswa disabilitas menuju masa depan yang lebih mandiri.
Melalui penguatan kapasitas guru ini, Kota Kediri diharapkan dapat terus bertransformasi menjadi kota yang ramah pendidikan inklusif bagi seluruh generasi mudanya. [nm/but]






