Ponorogo (beritajatim.com) – Upaya memperkuat pelestarian kesenian Reog Ponorogo terus dilakukan melalui pendekatan ilmiah.
Salah satunya diwujudkan dalam Kajian Ergonomi Dadak Merak pada Remaja dan Dewasa di Ponorogo, yang digelar Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama Sanggar Tari Kawulo Bantarangin, pada Sabtu (27/6/2026) malam.
Kegiatan tersebut menghadirkan akademisi, maestro Reog, praktisi, hingga pembarong lintas generasi untuk membahas aspek kesehatan, keselamatan, dan pengembangan Dadak Merak.
Sarasehan berlangsung di Sanggar Tari Kawulo Bantarangin, Desa Somoroto, Kecamatan Kauman, Ponorogo. Sejumlah narasumber hadir dalam forum tersebut, di antaranya Dosen Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa UGM Dr. G.R. Lono Lastoro Simatupang, Kepala Pengelola Sanggar Tari Kawulo Bantarangin Ridzwan Miftahul Aji, serta dipandu moderator M. Ismail Hamsyah. Sementara pembicara berasal dari kalangan pembarong senior, pengrajin Reog, hingga pembarong remaja.
Kepala Pengelola Sanggar Tari Kawulo Bantarangin, Ridzwan Miftahul Aji, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari program Pascasarjana UGM yang mengangkat tema ergonomi Dadak Merak. Menurutnya, kajian ini menjadi langkah penting untuk melihat Dadak Merak tidak hanya sebagai properti pertunjukan, tetapi juga dari sisi kesehatan dan keselamatan para pembarong. Pendekatan tersebut dinilai sangat relevan dengan perkembangan Reog Ponorogo saat ini.
“Ini adalah salah satu program dari Pascasarjana UGM yang melaksanakan sarasehan dan dialog interaktif tentang ergonomi Dadak Merak pada remaja dan juga dewasa. Dadak Merak sebagai properti penting dalam Reog Ponorogo yang berkaitan dengan kesehatan, kenyamanan, dan efisiensi saat digunakan oleh seorang pembarong,” ungkap Miftha sapaan karib Ridzwan Miftahul Aji, Minggu (28/6/2026).
Dia menjelaskan, diskusi tidak hanya membahas teknik memainkan Dadak Merak. Berbagai risiko yang dihadapi pembarong sejak proses latihan hingga saat tampil juga menjadi perhatian. Karena itu, kajian ergonomi diharapkan mampu memberikan pemahaman baru, agar para pembarong dapat berlatih dengan lebih aman.
“Pembahasannya mulai dari bagaimana cara berlatih, risiko-risiko yang harus dihadapi ketika menjadi pembarong, hingga berbagai aspek lain yang selama ini jarang dikupas. Pendekatannya bukan hanya dari sisi seni, karakter, estetika, dan visual, tetapi juga dari sisi kesehatan para pembarong yang wajib diperhatikan,” katanya.
Miftha mengungkapkan, dialog interaktif semakin menarik karena dihadiri berbagai tokoh seni Reog Ponorogo. Di antaranya maestro pembarong Mbah Wondo-Wandi, pembarong perempuan Intan, perwakilan Dewan Kesenian Ponorogo Wisnu HP, hingga para praktisi dan pengrajin Reog. Kehadiran para akademisi dan pelaku seni dinilai menghasilkan diskusi yang kaya akan pengalaman sekaligus dasar ilmiah.
Dalam kesempatan itu, Miftha juga memaparkan pentingnya membangun pemahaman dasar kepada generasi muda mengenai fungsi Dadak Merak. Menurutnya, anak-anak perlu mengetahui bahwa menjadi pembarong bukan sekadar mampu mengangkat Dadak Merak, tetapi juga memahami nilai pelestarian, karya seni, hingga peluang prestasi yang dapat diraih.
“Saya menjelaskan bagaimana anak-anak harus melek terlebih dahulu tentang fungsi Dadak Merak, baik untuk pelestarian, kekaryaan, maupun unjuk keterampilan. Bermain Dadak Merak juga bisa menjadi prestasi yang memudahkan mereka melanjutkan pendidikan, bahkan membuka peluang mendapatkan beasiswa,” ungkapnya.
Dia menambahkan, ketika kemampuan pembarong meningkat, mereka perlu dikenalkan pada sisi profesi dan proses pembuatan Dadak Merak. Mulai dari mengenal bagian-bagian seperti caplokan hingga teknik pembuatan Dadak Merak secara utuh. Dengan begitu, regenerasi tidak hanya melahirkan pembarong, tetapi juga pengrajin Reog yang berkualitas.
Miftha menegaskan Sanggar Tari Kawulo Bantarangin terbuka untuk menjadi ruang kolaborasi antara akademisi dan pelaku seni. Menurutnya, riset-riset seperti ini harus terus berlanjut agar memberikan manfaat nyata bagi perkembangan Reog Ponorogo. Dia berharap para pembarong semakin memahami makna, filosofi, serta fungsi Dadak Merak sebagai identitas budaya Ponorogo.
“Kami sangat terbuka kepada UGM untuk berdiskusi dan berbagi ilmu. Harapan kami kegiatan ini tidak berhenti di sini, tetapi ada tindak lanjut berupa riset-riset berikutnya yang memberikan manfaat bagi perkembangan Reog Ponorogo,” tegasnya.
Sementara itu, Plt. Bupati Ponorogo, Lisdyarita, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya forum ilmiah tersebut. Menurutnya, kajian akademik menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan Reog Ponorogo setelah resmi diakui UNESCO. Pelestarian budaya, kata dia, harus dilakukan secara berkelanjutan melalui diskusi, penelitian, dan penguatan kapasitas para pelaku seni.
“Saya sangat mendukung dan mengapresiasi jika ada forum maupun kegiatan diskusi terkait pengembangan dan pelestarian kesenian Reog. Penting kiranya setelah kesenian Reog diakui UNESCO, harus ada keberlanjutan, terutama dari unsur pelestarian. Karena itu, diskusi dan kegiatan seperti ini harus sering dilakukan,” pungkasnya. (end/ted)






