Malang (beritajatim.com) – Kualitas riset doktoral berstandar internasional terus dipacu melalui program Joint Supervision EQUITY-LPDP. Program pendanaan nasional ini mempertemukan Universitas Negeri Malang (UM) dengan Walailak University, Thailand, dalam rangkaian kegiatan yang berlangsung sepanjang April 2026 di Fakultas Sastra UM.
Sinergi ini bertujuan menyinkronkan pembimbingan promotor lintas negara demi mengejar target publikasi pada jurnal bereputasi Scopus Q1. Langkah strategis ini diambil guna memastikan riset mahasiswa doktoral tidak hanya berhenti pada disertasi, tetapi bertransformasi menjadi artikel ilmiah yang diakui secara global.
Wakil Dekan I Fakultas Sastra UM, Evynurul Laily Zen, S.S., M.A., Ph.D., menegaskan bahwa publikasi di level internasional bukan lagi sekadar kewajiban administratif individu mahasiswa. Menurutnya, hal tersebut merupakan bagian dari upaya besar institusi dalam membangun ekosistem riset yang berkelanjutan.
“Publikasi internasional tidak lagi dipandang sebagai urusan individual peneliti, melainkan bagian integral dari penguatan budaya akademik institusi yang harus kita dukung bersama,” ujar Evy pada beritajatim.com, Rabu (6/5/2026).
Program ini tidak hanya berorientasi pada hasil akademik, tetapi juga mendukung pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya pada poin SDG 4 terkait kualitas pendidikan dan SDG 17 mengenai kemitraan global untuk mencapai tujuan.
“Kolaborasi antara Universitas Negeri Malang dan Walailak University ini diharapkan menjadi katalisator bagi para dosen dan mahasiswa pascasarjana untuk terus meningkatkan standar riset mereka menuju standar global,” imbuh Wakil Dekan I Fakultas Sastra.
Program ini juga melibatkan Prof. Yazid Basthomi sebagai promotor dari UM. Dalam skema Joint Supervision, promotor internal berperan menjaga arah riset tetap kuat secara akademik dan kontekstual, sementara ko-promotor luar negeri memberi perspektif tambahan mengenai standar publikasi internasional.
Salah satu agenda penting dalam rangkaian program ini adalah guest lecture bertajuk “Cracking Q1 Scopus Indexed Journals: A Simple Guide to High Impacts Publishing” yang digelar pada Rabu (23/4/2026) di Gedung D16 UM lantai 2, Malang. Acara ini menghadirkan Assoc. Prof. Dr. Budi Waluyo dari Walailak University, seorang pakar yang masuk dalam daftar World’s Top 2% Scientists 2025.
Forum ini dihadiri oleh dosen, mahasiswa pascasarjana, serta kandidat doktor yang fokus pada pengembangan strategi publikasi.
Dalam laporannya, Budi Waluyo menjelaskan bahwa banyak peneliti pemula yang masih keliru dalam membedakan antara status indeksasi Scopus dengan peringkat kuartil jurnal. Ia menekankan bahwa naskah yang berkualitas tetap memerlukan strategi pengiriman yang tepat agar tidak terkena penolakan di tahap awal oleh editor.
“Anda tidak perlu menjadi akademisi yang sempurna untuk bisa terbit di jurnal Q1, tetapi Anda harus menjadi peneliti yang strategis, persisten, dan reflektif,” tegas Budi di hadapan peserta.
Ia juga menambahkan bahwa strategi dalam proses publikasi memiliki bobot yang sama pentingnya dengan kualitas riset itu sendiri.
“Pemahaman terhadap ekspektasi editor dan kesesuaian ruang lingkup jurnal seringkali menjadi penentu utama apakah sebuah naskah akan dilanjutkan ke tahap review atau langsung ditolak (desk rejection),” kata Dr. Budi menutup.
Selain pemaparan teori, kegiatan ini juga membedah riset mahasiswa doktoral, salah satunya riset milik Mala Rovikasari. Mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris UM ini mempresentasikan penelitian mengenai feedback literacy, yakni bagaimana mahasiswa mengelola umpan balik akademik dalam proses menulis karya ilmiah. (dan/kun)






