Malang (beritajatim.com) – Universitas Negeri Malang (UM) menjadi tuan rumah agenda Programme Validation & Stakeholder Strategic Engagement Workshop dalam kerangka program AFRASIA. Kegiatan yang berlangsung di Aula Lantai 9 Graha Rektorat UM pada Rabu (6/5/2026) ini menjadi langkah konkret dalam memperkuat sinergi ilmu pengetahuan antara negara di belahan bumi bagian selatan (Global South).
Rektor Universitas Negeri Malang, Prof. Dr. Hariyono, M.Pd., menegaskan bahwa inisiasi ini merupakan bentuk tanggung jawab kaum intelektual untuk memastikan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) memberikan dampak langsung bagi masyarakat. Menurutnya, kerja sama antarnegara selatan selama ini cenderung masih lemah dibandingkan dengan hubungan dengan negara-negara utara atau barat.
”Kita sadar hubungan antara negara selatan-selatan yang mayoritas merupakan negara yang pernah dijajah itu relatif tertinggal. Selama ini kerja sama kita justru masih lemah. Melalui program ini, kita menggandeng ISTIC yang berada di bawah naungan UNESCO untuk mengembangkan ilmu pengetahuan yang tidak hanya terbatas pada natural sciences, tetapi juga merambah ke bidang sosial,” ujar Prof. Hariyono di sela acara.
Lebih lanjut, Prof. Hariyono menjelaskan bahwa pertemuan ini bertujuan mempertemukan para ilmuwan dari berbagai negara, seperti Malaysia, Tanzania (Afrika), dan negara lainnya. Ia berharap kolaborasi ini dapat menerjemahkan semangat historis Konferensi Asia Afrika (KAA) yang selama ini kental dengan nuansa politik menjadi sebuah deklarasi Iptek.
”Bung Karno pernah menyatakan bahwa negara-negara Asia-Afrika tidak akan mungkin bisa setara dengan negara barat jika tidak menguasai Iptek. Jika kerja sama Iptek dan ekonomi di Asia-Afrika ini berkembang, maka dampak geoeconomi dan geopolitik kita akan semakin baik,” tambahnya.
Selama ini, UM telah aktif memberikan kontribusi nyata bagi negara-negara anggota Non-Aligned Movement (NAM) melalui pemberian beasiswa S2 dan S3, khususnya bagi mahasiswa dari Timor Leste, Filipina, hingga negara-negara di kawasan Afrika.

Senada dengan Rektor, Wakil Rektor III UM Bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Inovasi, Prof. Dr. Markus Diantoro, M.Si., menjelaskan bahwa program AFRASIA ini merupakan tindak lanjut dari kesepakatan pertemuan di Pretoria tahun lalu. Terdapat tiga topik utama yang menjadi fokus riset bersama, yakni kesehatan, air, dan energi.
”Tiga bidang tersebut dianggap yang paling utama dan krusial di setiap negara. Riset yang dilakukan nantinya bersifat multidisiplin. Jadi, meskipun topiknya energi atau air, aspek sosial dan dampaknya ke masyarakat tetap harus dikaji. Luarannya bukan hanya produk atau penambahan ilmu, tetapi perubahan sosial di masyarakat,” jelas Prof. Markus.
Workshop hari pertama ini dihadiri oleh sekitar 20 peserta dari berbagai negara, dengan kehadiran pejabat penting seperti Dirjen dan Sesjen dari kementerian terkait yang dijadwalkan menyusul. Pada hari ketiga, kegiatan akan semakin intensif dengan melibatkan pihak industri, termasuk PT MBH Jatim, guna menyelaraskan hasil riset dengan kebutuhan sektor industri.
Terdapat empat negara utama yang mengawali pendanaan dan pelaksanaan program ini, yaitu Indonesia (UM), Malaysia (UTM), Tanzania, dan Amerika Selatan. Program riset ini rencananya akan dikompetisikan secara luas pada tahun 2027 kepada 77 negara yang tergabung dalam South-South Cooperation.
Dalam struktur organisasi program, UM memegang peran strategis. UM tergabung dalam dua kelompok besar, yakni Working Package 5 di bidang koneksi dan kolaborasi bersama Universiti Teknologi Malaysia (UTM), serta aktif dalam Global South Research University Alliance (GSRUA).
”Setelah workshop di Malang ini, akan dilakukan soft launching di Cape Town, Afrika Selatan. Indonesia akan hadir di sana untuk mengunci kerja sama dengan beberapa universitas. Implementasi penuh dan dampaknya diharapkan mulai terlihat pada tahun 2027 mendatang,” pungkas Prof. Markus. [dan/aje]






