Jakarta (beritajatim.com) – Semangat sportivitas dan patriotisme terus digaungkan oleh para atlet bertalenta khusus di Indonesia.
Dukungan terhadap mereka pun semakin menguat, termasuk dari Komite Nasional Disabilitas (KND) yang siap bersinergi lintas sektor bersama Special Olympics Indonesia.
Komisioner KND, Jonna Aman Damanik, menegaskan bahwa kegiatan olahraga bertaraf nasional hingga internasional yang digelar SOIna layak mendapat dukungan luas dari berbagai pihak, mulai dari pemerintah pusat, daerah, hingga sektor swasta.
“Kegiatan bertaraf nasional dan internasional dari Special Olympics Indonesia sepantasnya didukung semua pihak mulai pusat hingga daerah. Pemerintah, swasta, individu tokoh dan pemangku lain termasuk kalangan DPRD dapat ambil peran menyokong atlet bertalenta khusus. Komite Nasional Disabilitas sesuai amanah UU No.8 tahun 2016 siap sinergi bersama Pengurus SOIna menjalin kolaborasi lintas sektor kementerian,” ujar Jonna.
KND juga mendorong penguatan koordinasi lintas kementerian melalui Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, bersama Kementerian Sosial, Kementerian Kesehatan, Kementerian Hak Asasi Manusia, serta Kementerian Pemuda dan Olahraga sebagai leading sector.
Langkah ini dinilai penting mengingat ribuan atlet disabilitas intelektual, termasuk penyandang down syndrome dan autisme, membutuhkan perlindungan berbasis hak asasi manusia sekaligus dukungan rehabilitasi sosial yang produktif.
Sebelumnya, KND juga telah memantau pemenuhan hak olahraga atlet disabilitas fisik yang tergabung dalam National Paralympic Committee Indonesia pada ajang tingkat ASEAN. Kini, perhatian serupa diberikan kepada atlet SOIna yang akan berlaga dalam Pekan Special Olympics Nasional di Kupang, Nusa Tenggara Timur, pada Oktober mendatang.
Ketua Umum SOIna, Warsito Ellwein, mengungkapkan bahwa banyak atlet dari daerah pelosok mampu menorehkan prestasi membanggakan meski menghadapi keterbatasan sumber daya.
“Banyak atlet asal daerah pelosok sekalipun terlilit keterbatasan akses sumber daya dukungan tetapi terbukti sukses meraih prestasi medali emas, perak, perunggu di berbagai cabang olahraga tingkat nasional maupun regional Asia Pasifik,” ujarnya.
Pada Pesonas 2026, sebanyak tujuh cabang olahraga akan dipertandingkan. Namun, hingga saat ini, partisipasi daerah masih menghadapi tantangan. Dari target 30 provinsi, baru 21 yang menyatakan kesiapan, dengan jumlah atlet sekitar 420 orang dari target 800 hingga 1.000 peserta.
Sebagian besar kontingen masih harus berangkat secara mandiri dan swadaya. Keterbatasan anggaran daerah, termasuk APBD NTT, membuat dukungan yang tersedia baru mencakup penginapan, layanan medis, dan mobilitas selama sepekan penyelenggaraan.
“Kami apresiasi luar biasa kerja keras pemprov dan DPRD NTT bersama unsur setempat. Daerah-daerah potensial mengirim atlet dalam jumlah proporsional sesuai kemampuan daerah mandiri dengan daerah berkekurangan kita upayakan skema subsidi dari hasil lelang penjualan lukisan dan kain jika kita bisa mengadakan donasi amal semacam gala dinner,” imbuh Warsito.
Ke depan, SOIna juga menatap panggung global melalui World Summer Games di Santiago, Chile. Jika pada ajang sebelumnya di Berlin tahun 2023 Indonesia hanya mengirimkan 25 atlet, maka pada edisi 2027 ditargetkan sebanyak 63 atlet dapat berpartisipasi.
Ajang olahraga ini menjadi cerminan wajah Indonesia di mata dunia, sekaligus bentuk nyata perlindungan terhadap sekitar 5,2 juta penyandang disabilitas intelektual agar mendapatkan hak yang setara, adil, dan bermartabat.
Sementara itu, Komite Kepanitiaan Gala Dinner SOIna, Hari Subagyo, menyampaikan bahwa pihaknya telah mengajukan permohonan audiensi kepada Presiden Prabowo Subianto.
“SOIna telah berkirim surat mohon audiensi kepada Presiden Prabowo Subianto melalui Kantor Setneg RI. Kami percaya seandainya surat kami sampai ke meja beliau, pasti Pak Prabowo berkenan menerima sesaat waktu kedatangan adik-adik atlet bertalenta di tengah kesibukan Presiden,” pungkasnya. (ted)






