Surabaya (beritajatim.com) – Di tengah meningkatnya tensi geopolitik di kawasan Teluk yang memicu ketidakpastian global, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan bahwa stabilitas Sektor Jasa Keuangan (SJK) Indonesia tetap terjaga. Eskalasi konflik tersebut telah mengganggu jalur distribusi energi global di Selat Hormuz, yang berdampak pada lonjakan harga komoditas dan volatilitas pasar keuangan dunia.
Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, mengungkapkan bahwa meskipun kondisi global menekan, indikator domestik menunjukkan resiliensi yang kuat. Inflasi inti terpantau menurun per Maret 2026, sementara aktivitas konsumsi masyarakat tetap solid dengan pertumbuhan penjualan ritel diperkirakan mencapai 6,89 persen (yoy)
.
“Kinerja ekonomi kita tetap positif. Meskipun pasar saham domestik mengalami koreksi sebesar 14,42 persen (mtm) akibat aksi wait-and-see investor, likuiditas pasar tetap terjaga,” jelasnya dalam Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB), Senin (6/4/2026).
Sektor perbankan mencatatkan pertumbuhan kredit sebesar 9,37 persen (yoy) menjadi Rp8.559 triliun pada Februari 2026. Menariknya, kredit investasi menjadi motor penggerak utama dengan pertumbuhan tertinggi mencapai 20,72 persen. OJK juga mencatat pertumbuhan signifikan pada produk Buy Now Pay Later (BNPL) perbankan yang melonjak 26,41 persen (yoy).
Selain menjaga stabilitas makro, OJK memperketat pengawasan terhadap aktivitas keuangan ilegal. Sepanjang awal tahun hingga Maret 2026, Satgas PASTI telah menghentikan 951 entitas pinjaman online ilegal dan 2 tawaran investasi bodong.
Guna melindungi masyarakat dari penipuan, Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) telah memblokir dana korban sebesar Rp585,4 miliar dari ratusan ribu rekening yang terindikasi melakukan tindak kejahatan. OJK juga terus mendorong literasi keuangan melalui program GENCARKAN yang telah menjangkau 36,2 juta peserta di seluruh penjuru Indonesia.[rea]






