Pacitan (beritajatim.com) – Petani padi di Kabupaten Pacitan mulai menghadapi tantangan serius memasuki musim tanam kedua (gadu) tahun ini. Pasalnya, wilayah tersebut mulai memasuki musim kemarau dengan potensi kondisi cuaca ekstrem.
Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Pacitan, Agus Rustamto, mengatakan bahwa berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim gadu tahun ini dipengaruhi fenomena El Nino yang berpotensi memicu cuaca panas ekstrem.
“Untuk musim gadu ini ada kondisi ekstrem Godzilla El Nino,” kata Agus, Rabu (1/4/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut perlu diwaspadai petani. Jika tetap memaksakan tanam padi tanpa didukung kecukupan air, risiko gagal panen atau puso sangat besar.
Karena itu, pihaknya merekomendasikan petani untuk menanam padi varietas tahan kering atau beralih ke komoditas palawija.
“Kami menyarankan menanam padi varietas tahan kering atau beralih ke palawija,” jelasnya.
Selain itu, bagi wilayah yang masih memiliki jaringan irigasi, Agus menekankan pentingnya pemeliharaan saluran irigasi agar ketersediaan air tetap terjaga. Pemanfaatan sumur pompa juga dinilai dapat membantu memenuhi kebutuhan air di lahan pertanian.
“Perlu pemeliharaan jaringan irigasi dan optimalisasi sumur pompa untuk mempertahankan pasokan air,” imbuhnya.
Diketahui, pada awal April ini sebagian besar petani di Pacitan masih dalam masa panen padi, sementara sebagian lainnya mulai bersiap memasuki masa tanam berikutnya. Kondisi cuaca yang tidak menentu menjadi faktor penting yang harus diperhatikan dalam menentukan pola tanam ke depan. (tri/aje)






