Malang (beritajatim.com) – Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghadirkan inovasi budidaya ikan nila dengan sistem bioflok di Desa Kebobang, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang. Program ini dikemas melalui skema Kuliah Kerja Nyata (KKN) Berdampak ini berlangsung selama 30 hari, terhitung sejak 24 Januari hingga 22 Februari 2026.
Inisiatif ini berfokus pada transfer teknologi dan peningkatan keterampilan masyarakat. Hal itu dilakukan untuk mewujudkan ketahanan pangan lokal yang mandiri.
Dosen Pembina Lapangan (DPL), Festy Putri Ramadhani, M.P., mengungkapkan bahwa pemilihan metode bioflok dan kolam terpal didasarkan pada analisis kondisi geografis dan kebutuhan ekonomi warga setempat. Menurutnya, masyarakat membutuhkan solusi yang tidak hanya teoritis, tetapi aplikatif dan berkelanjutan.
“Kami mendorong mahasiswa untuk menghadirkan solusi yang benar-benar bisa dilanjutkan secara mandiri oleh warga setelah program berakhir. Budidaya ikan nila dengan media kolam terpal dipilih karena fleksibel, mudah diterapkan di pekarangan rumah, dan sangat sesuai dengan kondisi lahan masyarakat Desa Kebobang,” terang Festy dalam rilis resminya, Minggu (29/3/2026).
Metode bioflok sendiri merupakan teknik budidaya yang memanfaatkan mikroorganisme (bakteri baik) untuk mengolah limbah sisa pakan dan kotoran ikan menjadi gumpalan organik (flok) yang dapat dimakan kembali oleh ikan sebagai pakan alami tambahan.
Keunikan dari program ini terletak pada kolaborasi mahasiswa dari berbagai latar belakang keilmuan. Tim KKN ini melibatkan mahasiswa dari program studi Agribisnis, Komunikasi, Hukum, Informatika, hingga Perikanan. Sinergi ini memungkinkan pendampingan masyarakat dilakukan dari hulu ke hilir.
Festy menjelaskan bahwa pendekatan multidisiplin ini membuat program jauh lebih efektif. Mahasiswa perikanan fokus pada teknis budidaya, mahasiswa agribisnis menyusun perhitungan ekonomi, sementara mahasiswa komunikasi mengelola edukasi dan strategi pemasaran produk nantinya.
“Setiap mahasiswa memiliki peran spesifik. Ada yang menangani aspek teknis, ada juga yang melakukan pendampingan komunikasi agar masyarakat lebih mudah menangkap materi yang disampaikan. Keterlibatan aktif sekitar 20 hingga 25 warga, mulai dari pemuda Karang Taruna, ibu rumah tangga, hingga perangkat desa, membuktikan bahwa program ini diterima dengan tangan terbuka,” tambahnya.
Dalam pelaksanaannya, tim membangun kolam percontohan dengan diameter dua meter dan tinggi satu meter. Struktur kolam menggunakan rangka besi yang kokoh dengan lapisan terpal standar budidaya. Sebanyak 1.000 benih ikan nila ukuran 5–7 cm ditebar sebagai langkah awal operasional.
Penggunaan sistem bioflok memberikan beberapa keuntungan signifikan bagi warga desa. Saat ini mereka tidak memerlukan pergantian air secara rutin karena kualitas air dijaga oleh aktivitas bakteri.
Selain itu, limbah organik diubah menjadi protein tambahan bagi ikan, sehingga menekan biaya pakan. Hal itu memungkinkan jumlah ikan yang lebih banyak dalam volume air yang terbatas dibandingkan kolam konvensional.
Limbah buangan minimal karena sistem sirkulasi nutrisi yang tertutup. “Teknologi ini sangat cocok untuk skala rumah tangga. Selain tidak butuh lahan luas, biaya operasionalnya jauh lebih efisien dibandingkan metode tradisional,” jelas Festy.
Keberhasilan program ini terlihat dari antusiasme dan pemahaman warga yang meningkat tajam. Berdasarkan hasil pre-test dan post-test yang dilakukan tim KKN, skor pemahaman warga terkait budidaya ikan melonjak dari rata-rata 55 menjadi 85. Angka ini menunjukkan bahwa transfer ilmu berjalan dengan efektif.
Proses pendampingan dilakukan secara bertahap, mulai dari observasi kebutuhan desa, perencanaan partisipatif, hingga pelatihan teknis. Warga diajarkan cara merakit kolam, memilih benih unggul, manajemen pemberian pakan, hingga cara menjaga stabilitas kualitas air di tengah cuaca yang tidak menentu.
Meskipun saat ini masa panen raya belum tercapai sepenuhnya, data pertumbuhan ikan menunjukkan tren yang sangat positif. Tingkat kelangsungan hidup (survival rate) benih ikan terpantau tinggi, yang menandakan manajemen air dan pakan telah dijalankan dengan baik oleh warga di bawah bimbingan mahasiswa.
Melihat respons positif tersebut, tim KKN UMM merekomendasikan adanya pengembangan lanjutan. Potensi ini diharapkan dapat dikelola lebih serius melalui pembentukan kelompok budidaya tingkat desa dan dukungan permodalan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes).
“Kami berharap model kolam terpal bioflok ini bisa diperluas ke dusun-dusun lain. Jika dikelola secara komunal, ini bisa menjadi sumber ekonomi baru yang berkelanjutan dan memperkuat asupan protein hewani bagi keluarga di Desa Kebobang,” pungkas Festy. [dan/suf]






