Malang (beritajatim.com) – Dosen Program Studi Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Fauzan Ammar Putra, ST., MT., mengungkapkan bahwa penerapan teknik eco driving mampu menekan konsumsi BBM serta emisi kendaraan. Cara ini bahkan mampu membuat penghematan hingga menyentuh angka 50 persen.
Fauzan menegaskan bahwa pola berkendara yang tepat sangat berpengaruh terhadap performa mesin, terutama untuk perjalanan jarak jauh yang memakan waktu lama. Menurutnya, eco driving bukan sekadar tren, melainkan kebutuhan agar kerja mesin tetap optimal dan kantong pemudik tetap aman.
Dalam penjelasannya pada Kamis (19/3), Fauzan menyebutkan bahwa lonjakan konsumsi bahan bakar paling signifikan terjadi saat pengemudi melakukan akselerasi secara agresif atau mendadak.
“Konsumsi bahan bakar terbesar terjadi ketika kendaraan berakselerasi. Karena itu, pengemudi sebaiknya menjaga laju tetap stabil dan menghindari perubahan kecepatan yang drastis agar mesin tidak bekerja terlalu berat,” ujar Fauzan.
Ia menambahkan, menjaga kecepatan tetap konstan adalah kunci utama dalam eco driving. Dengan cara ini, sistem pembakaran di dalam mesin dapat bekerja secara lebih efisien tanpa harus mengeluarkan tenaga ekstra yang sia-sia.
Selain masalah kecepatan, pengelolaan Revolutions Per Minute (RPM) dan penggunaan transmisi yang bijak turut menentukan efisiensi. Fauzan mengingatkan agar pengemudi tidak menahan gigi rendah terlalu lama karena akan memicu putaran mesin tinggi yang boros bahan bakar.
“Mesin memiliki rentang putaran ideal. RPM yang terlalu tinggi jelas meningkatkan konsumsi BBM, sementara RPM yang terlalu rendah justru membuat mesin bekerja lebih terbebani,” imbuhnya.
Salah satu kebiasaan yang sering salah kaprah adalah membuka jendela mobil saat perjalanan jauh dengan harapan menghemat pemakaian AC. Fauzan meluruskan bahwa secara aerodinamika, membuka jendela justru menciptakan hambatan udara (drag) yang lebih besar.
Akibat hambatan tersebut, mesin dipaksa bekerja lebih keras untuk menembus angin, yang berujung pada pemborosan BBM. Ia menyarankan pemudik untuk tetap menggunakan AC dengan pengaturan bijak dan memanfaatkan mode resirkulasi udara agar suhu kabin terjaga tanpa membebani mesin secara berlebih.
Penerapan eco driving ternyata tidak hanya berdampak pada finansial, tetapi juga pada aspek keselamatan. Gaya berkendara yang halus membuat pengemudi lebih antisipatif terhadap situasi jalan dan mengurangi risiko kelelahan (fatigue) saat menempuh perjalanan panjang.
Terkait tradisi membawa banyak barang saat mudik, Fauzan memberikan peringatan tegas mengenai beban kendaraan.
Ia memberi tips agar pengendara menghindari overload alias eban berlebih meningkatkan risiko overheat pada mesin. Disarankan mengirim sebagian barang melalui jasa pengiriman jika muatan sudah melebihi kapasitas.
Lalu, pastikan tekanan angin ban sesuai dengan rekomendasi pabrikan untuk meminimalkan gesekan yang menghambat laju mobil. “Dengan gaya berkendara yang halus, stabil, dan terkontrol, perjalanan mudik bisa menjadi lebih hemat, aman, dan sekaligus ramah lingkungan,” pungkas Fauzan. (dan/ian)






