Malang (beritajatim.com) – Pakar kesehatan dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengingatkan masyarakat untuk membatasi interaksi fisik dengan bayi selama momen mudik Lebaran 2026. Kebiasaan mencium atau menggendong bayi dinilai berisiko tinggi dalam penularan virus campak yang sangat infeksius.
Dosen Kedokteran UMM sekaligus dokter spesialis anak, Dr. dr. Pertiwi Febriana Chandrawati, M.Sc., Sp.A, menegaskan bahwa kerumunan di transportasi umum maupun pertemuan keluarga besar menjadi titik rawan penyebaran virus.
“Mobilitas masyarakat saat mudik memang meningkatkan potensi penyebaran campak. Interaksi di ruang tertutup dan kerumunan keluarga menjadi faktor utama,” ujarnya, Selasa (18/3/2026).
Ia menjelaskan, virus campak dapat bertahan di udara melalui percikan droplet bahkan setelah penderita meninggalkan ruangan, sehingga risiko penularan tetap tinggi meski tanpa kontak langsung.
Kelompok yang paling rentan terpapar adalah anak-anak, terutama bayi, karena sistem kekebalan tubuh mereka belum terbentuk sempurna. Kondisi ini dapat diperparah jika anak mengalami kekurangan nutrisi.
“Penyakit ini bisa menyebabkan pneumonia, diare berat, hingga infeksi pada sistem saraf,” tambahnya.
Menurutnya, kebiasaan masyarakat Indonesia yang spontan mencium, memeluk, atau menggendong bayi saat momen Lebaran justru menjadi jalur cepat penyebaran virus.
Orang tua juga diminta meningkatkan kewaspadaan karena gejala campak tidak langsung muncul setelah terpapar. Masa inkubasi virus berkisar antara 10 hingga 12 hari sebelum tanda klinis terlihat.
Gejala awal campak meliputi demam tinggi, batuk, pilek, mata merah (konjungtivitis), serta munculnya ruam kemerahan pada kulit. Pada fase awal sebelum ruam muncul, penderita sudah dapat menularkan virus ke orang lain.
“Sebagai langkah antisipasi, imunisasi adalah perlindungan terbaik dan paling efektif. Imunisasi campak yang lengkap sesuai jadwal terbukti mampu membentuk benteng pertahanan tubuh yang kuat dan menekan risiko komplikasi berat,” tutup dr. Pertiwi. [dan/beq]






