Ponorogo (beritajatim.com) – Perubahan pola belanja masyarakat mulai terasa di Pasar Legi. Jajanan lebaran yang dulu jadi buruan di pasar terbesar di Ponorogo, kini kalah saing dengan belanja online. Hal ini pun membuat omzet pedagang turun signifikan pada musim Lebaran tahun ini. Lapak pedagang jajanan lebaran yang biasanya diserbu pembeli, hingga kini masih terlihat banyak di pasar.
Para pedagang mengaku, persaingan dengan penjual berbasis online menjadi tantangan baru yang sulit dihindari. Kemudahan akses, banyaknya pilihan, hingga sistem antar membuat konsumen beralih dari pasar tradisional.
Salah satu pedagang, Wiwit Widiastuti, mengatakan permintaan memang naik dibanding hari biasa. Dia memceritakan seminggu sebelum Lebaran, pembeli masih membeli 5 hingga 7 jenis jajanan Lebaran. Namun, peningkatan tersebut tidak cukup mendongkrak penjualan seperti tahun lalu.
“Dibanding tahun sebelumnya, lebaran ini lebih sepi. Dulu setiap hari sampai padat lapak saya, sekarang tidak begitu ramai,” kata Wiwit, Kamis(26/3/2026).
Di lapaknya, Wiwit menyediakan berbagai jajanan lebaran mulai dari rengginang, keripik bawang, kacang bawang, pisang gulung wijen hingga aneka kue kering seperti wafer. Meski produk lengkap, daya tarik pasar dinilai mulai tergerus oleh tren belanja digital.
Dia menduga, sebagian besar pelanggan kini lebih memilih membeli secara online karena dianggap praktis dan hemat waktu. Dampaknya, omzet penjualan pun merosot cukup tajam. Wiwit memperkirakan penurunan pendapatan mencapai 50 persen dibandingkan Lebaran tahun lalu. Untuk menyiasati kondisi tersebut, Dia terpaksa menekan keuntungan agar tetap bisa bersaing.
“Kebanyakan yang ke sini sudah langganan, pasarnya juga tidak seramai tahun lalu jadi agak menurun,” jelasnya.
Fenomena ini menjadi gambaran nyata pergeseran perilaku konsumen di tengah perkembangan teknologi. Jajanan lebaran yang selama ini identik dengan pasar tradisional kini harus berhadapan langsung dengan dominasi belanja online. [end/aje]






