Surabaya (beritajatim.com) – Chavel Aiko Ratu, mahasiswi Teknik Informatika Universitas Surabaya (Ubaya), mengembangkan sistem informasi bernama Rasaya. Perangkat digital ini mendeteksi tren kesehatan mental siswa sekolah secara otomatis melalui analisis data yang presisi.
Program tersebut mengolah informasi dari guru, wali kelas, hingga siswa melalui platform web dan ponsel. Hasil akhirnya menjadi acuan sekolah dalam mengambil keputusan pendampingan konseling yang lebih sistematis bagi pelajar.
Chavel membangun Rasaya setelah melihat kendala sekolah dalam mendokumentasikan kondisi psikis siswa. Ia menemukan banyak remaja di Kupang, Nusa Tenggara Timur, sulit mengekspresikan perasaan secara langsung kepada tenaga pendidik.
“Siswa malu mengekspresikan apa yang mereka rasakan langsung kepada gurunya. Jadi, guru juga tidak sepenuhnya paham terkait apa yang sedang dirasakan siswanya,” tutur Chavel, Jumat (20/3/2026).
Sistem ini menggunakan metode Lexicon-Based Sentiment Analysis untuk mengukur emosi pengguna. Algoritma khusus mengklasifikasikan data ke dalam kategori stres akademik hingga konflik sosial berdasarkan validasi psikolog anak dan remaja.
Rasaya menyediakan fitur pemantau suasana hati harian, laporan teman, hingga refleksi mandiri. Kehadiran berbagai sumber data ini meminimalkan penilaian subjektif dalam memantau kondisi emosional di lingkungan sekolah secara berkelanjutan.
“Sumber datanya bersifat multi informan dan tidak subjektif karena melibatkan guru, wali kelas, dan teman,” jelas mahasiswa peminatan Sistem Informasi Bisnis tersebut.
Proses pengembangan machine learning menjadi tantangan terberat selama empat bulan pengerjaan. Chavel menghabiskan mayoritas waktu riset untuk memastikan ketepatan algoritma dalam mengolah klasifikasi emosi yang dimasukkan pengguna ke sistem.
“Saya menghabiskan tiga bulan untuk merancang machine learning dengan revisi tidak terhitung. Itu sangat sulit dan menantang, tapi saya bersyukur bisa melaluinya,” kenang Chavel.
Saat ini sistem Rasaya masuk tahap penyempurnaan usai dipresentasikan dalam sidang akhir. Chavel memproyeksikan inovasi ini dapat segera digunakan secara massal oleh berbagai institusi pendidikan di seluruh Indonesia.
“Saya sangat ingin Rasaya ini dapat membantu banyak pihak. Jadi, saya sedang mempersiapkannya agar siap digunakan secara massal,” pungkasnya. [ipl/aje]






