Ponorogo (beritajatim.com) – Dapur warga Ponorogo mulai terasa “panas” menjelang Hari Raya Idul Fitri. Bukan karena aktivitas memasak yang meningkat, melainkan lonjakan harga cabai rawit yang menembus Rp 100 ribu per kilogram. Keadaan itu pun menjadi pemicu utama naiknya harga kebutuhan pokok lainnya dalam beberapa hari terakhir.
Dinamika harga sembako di pasar tradisional Ponorogo menunjukkan tren kenaikan yang makin terasa dalam seminggu terakhir. Komoditas bumbu dapur menjadi yang paling terdampak, dengan cabai rawit sebagai penyumbang lonjakan tertinggi. Kenaikan ini tak hanya dirasakan pedagang, tetapi juga mulai membebani konsumen.
“Cabai rawit dalam 3 hari ini tembus Rp100 ribu per kilogramnya,” kata salah satu pedagang di Pasar Legi Ponorogo, Evi, Selasa (17/3/2026).
Evi bercerita sejumlah komoditas lainnya juga naik. Saat ini, bumbu dapur seperti bawang merah Rp 35 ribu per kilogram. Sedangkan untuk bawang putih harganya saat ini Rp 28 ribu.
“Bawang merah sekarang harganya Rp 35 ribu per kilogram dan bawang putih Rp 28 ribu per kilogram,” katanya.
Tak hanya bumbu dapur, harga protein hewani juga ikut bergerak naik. Daging sapi mengalami kenaikan meski dalam skala terbatas, yang tetap berpotensi memengaruhi daya beli masyarakat menjelang Lebaran. Tutik, salah satu pedagang daging, menyebut harga daging sapi kini berada di angka Rp 140 ribu per kilogram. Kenaikan ini terjadi secara bertahap dibandingkan minggu sebelumnya.
“Daging sekarang Rp 140 ribu per kilogram, naik Rp 5 ribu,” kata Tutik.
Sementara itu, harga ayam potong juga mengalami kenaikan, meski tidak terlalu signifikan. Namun, dari sisi pasokan, pedagang memastikan kondisi masih dalam batas aman hingga mendekati puncak kebutuhan Lebaran. Harga ayam saat ini berada di angka Rp 43 ribu per kilogram. Dia menyebut kenaikan masih relatif terkendali dibanding komoditas lain.
“Ayam Rp 43 ribu, naik Rp 3 ribu. Tapi stok aman, apalagi sudah mendekati H-2 Lebaran,” jelasnya.
Di sisi lain, Plt Bupati Ponorogo, Lisdyarita mengakui adanya tren kenaikan harga tersebut sebagai fenomena rutin menjelang hari besar keagamaan. Namun, perhatian khusus kini tertuju pada komoditas cabai yang dinilai menjadi pemicu utama inflasi. Plt Bupati Lisdyarita, menyebut fluktuasi harga cabai saat ini cukup bervariasi di pasaran, bahkan menyentuh angka tertinggi di kisaran Rp 100 ribu per kilogram. Dia menegaskan bahwa cabai menjadi faktor dominan dalam tekanan inflasi yang terjadi saat ini di Ponorogo.
“Yang menyebabkan inflasi di Ponorogo hari ini adalah cabai. Variasinya ada yang Rp 85 ribu sampai Rp 95 ribu per kilogram,” tambahnya.
Sebagai langkah antisipasi, Pemkab Ponorogo mulai menyiapkan strategi jangka menengah dengan mendorong kemandirian pangan rumah tangga. Khusunya untuk komoditas cabai. Gerakan ini diharapkan mampu menekan ketergantungan pasar.
“Ke depan akan kita dorong gerakan menanam cabai di setiap rumah, supaya harga cabai bisa turun,” ungkap Lisdyarita.
Selain itu, intervensi jangka pendek juga disiapkan melalui program Gerakan Pangan Murah (GPM). Fokusnya adalah menjaga stabilitas harga, terutama pada komoditas yang mengalami lonjakan permintaan menjelang Lebaran. [end/aje]






