Jombang (beritajatim.com) – Lima remaja asal Desa Pucangro, Kecamatan Gudo, Kabupaten Jombang, harus menanggung akibat tragis dari ledakan petasan yang terjadi pada Jumat, 13 Maret 2026, tengah malam. Salah satu korban, MZ (15), terpaksa menjalani amputasi setelah jari kirinya hancur akibat ledakan bubuk mercon yang mereka rakit secara mandiri di rumah warga.
Menurut keterangan dari RSUD Jombang, kelima remaja tersebut segera dilarikan ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) pada Sabtu dini hari (14/3/2026) dengan luka bakar serius akibat ledakan.
Tim medis di rumah sakit berupaya keras menangani mereka. Direktur RSUD Jombang, dr. Pudji Umbaran, menyatakan bahwa luka bakar yang diderita para korban sangat parah dan beragam, dengan tingkat keparahan bervariasi mulai dari 12 hingga 28 persen.
“Tingkat luka bakarnya bervariasi, ada yang 12 persen, 25 persen, hingga 28 persen. Kondisi ini harus ditangani sangat serius karena luka bakar akibat ledakan petasan biasanya bersifat dalam,” ujar dr. Pudji Umbaran, Sabtu (14/3/2026).
Kelima korban yang mengalami luka bakar kategori dalam ini telah melewati fase kritis dan kini dirawat intensif di Ruang Yudistira. MZ (15), yang mengalami luka paling parah, harus menjalani prosedur amputasi pada jari kedua tangan kirinya.
Keputusan untuk melakukan amputasi ini terpaksa diambil setelah diskusi panjang dengan keluarga korban yang semula menolak langkah medis tersebut.
“Memang benar tangan kiri pada jari kedua MZT hancur akibat ledakan tersebut,” jelas dr. Pudji Umbaran mengenai keputusan medis yang diambil demi menyelamatkan nyawa korban.
Sementara itu, kondisi kelima korban mulai menunjukkan tanda-tanda perbaikan, meski mereka masih membutuhkan perawatan lanjutan di ruang rawat inap. Para korban, yang semuanya berasal dari Desa Pucangro dan sekitarnya, teridentifikasi sebagai BR (15), MZ (15), ARA (18), WFR (17), dan KB (17).
Tragedi ini terjadi ketika mereka sedang merakit petasan di teras rumah seorang warga berinisial LA, yang tak disangka-sangka meledak secara instan. Ledakan tersebut menyisakan dampak serius bagi para korban, yang kini tengah berjuang untuk pulih.
Pihak RSUD Jombang menyatakan akan terus memantau perkembangan kondisi kelima korban selama masa perawatan intensif ini. Tragedi ini menjadi pengingat tentang bahaya merakit petasan secara mandiri yang dapat mengancam keselamatan jiwa. [suf]






