Jember (beritajatim.com) – Kapanikan pembelian bahan bakar minyak (BBM) yang terjadi di Kabupaten Jember, Jawa Timur, sejak Kamis (5/3/2026), mulai menular ke kota tetangga, Kabupaten Bondowoso dan Situbondo.
“Sampai hari ini terpantau masyarakat Kabupaten Bondowoso mulai mengalami panic buying,” kata Ketua Himpunan Wirawaswasta Nasional Minyak dan Gas (Hiswanamigas) Besuki, Ikbal Wilda Fardana, Sabtu (7/3/2026).
“Saya sudah menyampaikan kepada Wakil Ketua Bidang SPBU di Bondowoso untuk menyampaikan kepada masyarakat untuk tidak panik. Begitu pula di Situbondo juga sama. Kami sudah sampaikan untuk mengedukasi masyarakat supaya tidak membeli BBM berlebihan,” kata Ikbal.
Situasi ini berbeda dengan di Banyuwangi dan Lumajang. “Relatif aman, bahkan tidak ada antrean di sana,” kata Ikbal.
Ikbal belum tahu faktor yang membedakan kondisi di Situbondo dan Bondowoso dengan Banyuwangi dan Lumajang. “Kami belum tahu fenomenanya apa,” katanya.
Antrean sempat terjadi SPBU di Lumajang pada Jumat pagi. “Tapi siang sudah terurai,” kata Ikbal.
Ikbal yakin Pertamina sudah melakukan pemantauan dan evaluasi terhadap ketersediaan stok di Bondowoso dan Situbondo. Lumajang mendapatkan suplai dari Surabaya. Sementara Situbondo dan Bondowoso dari depot di Banyuwangi.
“Kalau memang memungkinkan atau harus ditambah, Pertamina juga siap menambah alokasi BBM di Bondowoso dan Situbondo,” kata Ikbal.
Antrean di Jember terjadi sejak Kamis (5/3/2026), menyusul kabar bahwa stok BBM di Indonesia hanya bertahan 21-23 hari. Ikbal menegaskan, stok BBM di kawasan Besuki yang meliputi Jember, Bondowoso, Situbondo, Banyuwangi, dan Lumajang masih aman dan mencukupi. [wir]






