Surabaya (beritajatim.com) – Arus logistik nasional mulai menunjukkan tensi tinggi menjelang perayaan Idulfitri 2026. Kombinasi momentum Lebaran, Imlek, dan masifnya investasi industri di Jawa Tengah memicu lonjakan volume kargo hingga 130% di titik-titik vital seperti Pelabuhan Tanjung Emas dan Tanjung Perak.
Ketua ALFI Jateng-DIY, Teguh Arif Handoko, mengungkapkan bahwa aktivitas di Pelabuhan Tanjung Emas kini telah menembus angka 1 juta TEUs, naik signifikan dari tahun-tahun sebelumnya. Kenaikan ini didorong oleh mulai beroperasinya perusahaan di Kawasan Industri Kendal (KIK) dan KIT Batang.
“Rotasi kontainer meningkat dari 2.800 unit menjadi 3.000 unit per hari. Kami meminta pemerintah tidak hanya fokus pada kemudahan investasi, tapi juga manajemen supply chain agar investor tidak bingung saat mengirim barang,” tegas Teguh.
Di Jawa Timur, Ketua ALFI Jatim, Sebastian Wibisono (Wibi), memprediksi volume logistik akan naik 80%. Sebagai jalur transit utama ke wilayah Timur Indonesia, Pelabuhan Tanjung Perak harus memutar otak untuk menghindari penumpukan.
“Kami menerapkan strategi pengalihan lokasi. Gudang yang biasanya untuk ekspor, sementara dialihkan untuk menampung barang impor atas izin Bea Cukai. Ini langkah darurat agar arus barang tetap mengalir,” ujar Wibi.
Menanggapi situasi ini, PT Pelindo Terminal Petikemas telah mengaktifkan sistem deteksi dini untuk memantau Berth Occupancy Ratio (kepadatan dermaga). Corporate Secretary Pelindo, Widyaswendra, memastikan operasional tetap berjalan penuh 24 jam selama 7 hari selama libur Lebaran.
“Kami menyiapkan lokasi overbrengen (pindah lokasi penumpukan) untuk mengurai kepadatan di dalam terminal. Pengguna jasa juga diimbau memaksimalkan Terminal Booking System guna menghindari kemacetan di akses jalan raya,” kata Widyaswendra.
Ketua Apindo Jateng, Frans Kongi, melihat lonjakan ini sebagai indikator kuat membaiknya daya beli masyarakat. Ia memprediksi pertumbuhan ekonomi di Jawa Tengah bisa menyentuh angka 5,7% saat momentum Lebaran, lebih tinggi dari rata-rata harian sebesar 5,1%.
Meskipun optimis, para pelaku usaha tetap waspada terhadap tantangan geopolitik global dan kebijakan tarif internasional yang diprediksi akan mempengaruhi stabilitas logistik pasca-Lebaran.[rea]






