Jombang (beritajatim.com) – Ramadan tahun ini membawa berkah bagi perajin sarung tenun goyor di Desa Penggaron, Kecamatan Mojowarno, Kabupaten Jombang. Pesanan sarung tenun goyor meningkat signifikan hingga 200 persen dibandingkan hari biasa. Lonjakan pesanan ini memaksa para perajin untuk bekerja lebih keras, bahkan lembur hingga malam hari untuk memenuhi permintaan.
Siti Khoiriumah, pemilik usaha sarung tenun goyor, mengatakan bahwa Ramadan kali ini menjadi momentum yang sangat menguntungkan bagi usahanya. “Permintaan meningkat sangat pesat, terutama dari pondok pesantren dan perusahaan untuk bingkisan Lebaran,” ujarnya, Sabtu (28/2/2026).
Menurut Siti, pesanan datang tidak hanya dari daerah sekitar Jombang, tetapi juga dari berbagai kota besar seperti Kalimantan dan Banyumas. Sarung tenun goyor yang diproduksinya terkenal akan kualitas dan motif khas yang menjadi daya tarik utama para konsumen.
Proses pembuatan sarung tenun goyor memerlukan ketelitian tinggi, dengan waktu pengerjaan rata-rata dua hingga tiga hari per potong. Hal ini dipengaruhi oleh kerumitan motif dan kondisi cuaca. “Jika cuaca panas, produksi lebih lancar. Namun, saat hujan atau mendung, produksi sedikit terhambat karena benang lebih lama kering,” jelas Siti.
Meski harga per potong sarung tenun goyor dijual mulai dari Rp250 ribu, banyak konsumen yang tetap memilihnya karena kualitas dan kenyamanan yang ditawarkan. Sarung ini dikenal adem saat cuaca panas dan tetap hangat ketika cuaca dingin.
Bagi para perajin seperti Siti, Ramadan tahun ini membawa harapan besar untuk kelangsungan usaha mereka. Selain meningkatkan pendapatan, lonjakan pesanan juga menjadi dorongan semangat untuk terus melestarikan kerajinan tradisional ini. “Kami berharap usaha sarung tenun goyor ini bisa terus berkembang dan dikenal lebih luas,” harap Siti.
Siti dan timnya bekerja keras untuk memenuhi pesanan yang terus mengalir. Dalam sehari, mereka mampu menghasilkan sekitar 15 potong sarung, meskipun dengan permintaan yang terus meningkat, mereka harus lembur hingga larut malam.
Namun, bagi Siti dan para perajin lainnya, semua itu adalah bagian dari upaya untuk merayakan keberkahan Ramadan dan menyambut Lebaran dengan penuh semangat. [suf]






