Yogyakarta (beritajatim.com) Kopi selama ini dikenal sebagai minuman favorit untuk mengusir kantuk. Namun di balik aromanya yang khas, kopi juga menyimpan beragam senyawa kimia yang menarik perhatian dunia ilmiah. Sejumlah penelitian terbaru menunjukkan bahwa beberapa komponen dalam kopi berpotensi memengaruhi proses penyerapan gula dalam tubuh.
Salah satu riset yang dipublikasikan dalam jurnal Beverage Plant Research mengungkap adanya senyawa kopi yang mampu memperlambat masuknya glukosa ke dalam aliran darah. Penelitian ini dipimpin Minghua Qiu dari Institut Botani Kunming, Akademi Ilmu Pengetahuan China. Meski demikian, para peneliti menegaskan temuan ini tidak bisa langsung dimaknai bahwa kopi dapat menjadi obat diabetes.
Kandungan Kimia Kopi Sangat Kompleks
Dosen Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian (TPHP) Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Widiastuti Setyaningsih, menjelaskan bahwa kopi mengandung berbagai senyawa penting seperti asam klorogenat, kafein, dan trigonelin. Selain itu, terdapat pula berbagai jenis gula dan gula alkohol dalam biji kopi.
Menurut Widi, komposisi senyawa tersebut tidak hanya dipengaruhi oleh varietas tanaman, tetapi juga oleh proses pascapanen dan pengolahan. “Rasa dan karakter kopi dibentuk oleh banyak komponen kimia, bukan satu zat tunggal,” ujarnya.
Ia mengingatkan masyarakat agar tidak salah kaprah menganggap kopi sebagai terapi diabetes. Meski asam klorogenat diketahui memiliki potensi antidiabetik, senyawa ini juga banyak ditemukan pada bahan pangan lain seperti apel, pir, dan kentang.
“Kopi adalah matriks pangan yang sangat kompleks, mengandung ribuan senyawa berbeda. Tidak bisa disederhanakan bahwa minum kopi otomatis menurunkan gula darah,” tegasnya.
Bisa Memperlambat Penyerapan Glukosa
Pandangan serupa disampaikan oleh dosen TPHP FTP UGM, Yunika Mayangsari. Ia menjelaskan bahwa secara ilmiah, hubungan antara senyawa kopi dan pengendalian diabetes cukup masuk akal. Kopi kaya akan senyawa fenolik seperti asam klorogenat, asam kafeat, hingga flavonoid.
Dalam beberapa riset, juga ditemukan senyawa seperti cafaldehid yang dapat menghambat kerja enzim alfa-glukosidase. Enzim ini berfungsi memecah karbohidrat kompleks menjadi glukosa di dalam saluran pencernaan.
“Jika aktivitas enzim ini ditekan, maka penyerapan glukosa bisa lebih lambat sehingga lonjakan gula darah berpotensi berkurang,” jelas Yunika.
Namun ia menekankan bahwa efek tersebut tidak bisa dijadikan dasar untuk mengganti terapi medis. Kopi lebih tepat diposisikan sebagai bagian dari gaya hidup, bukan sebagai obat.
Tetap Harus Bijak dalam Konsumsi
Yunika juga menambahkan bahwa riset di bidang pangan fungsional biasanya meneliti ekstrak dan senyawa aktif, bukan sekadar konsumsi langsung dalam bentuk minuman. Pengendalian diabetes sendiri melibatkan banyak mekanisme, mulai dari antioksidan, antiinflamasi, hingga peningkatan sensitivitas insulin.
Selain itu, aspek keamanan tetap perlu diperhatikan. Kandungan kafein, misalnya, bisa memicu gangguan pada orang dengan masalah lambung, jantung, atau sulit tidur.
“Sebagian besar studi tentang kopi dan diabetes bersifat asosiasi, bukan hubungan sebab-akibat langsung,” katanya.
Menutup diskusi, para akademisi mengingatkan masyarakat agar tidak menelan mentah-mentah informasi kesehatan. Kopi boleh dikonsumsi sebagai bagian dari pola hidup, tetapi kunci utama pencegahan dan pengelolaan diabetes tetap terletak pada pola makan seimbang, aktivitas fisik, dan kepatuhan terhadap anjuran medis. [aje]






