Jember (beritajatim.com) – PDI Perjuangan mengusulkan pencegahan tengkes atau stunting di Kabupaten Jember, Jawa Timur, melibatkan pedagang sayur atau mlijo. Dengan demikian tak hanya sektor kesehatan yang diperhatikan, namun juga sektor ekonomi kecil.
“Jember selama bertahun-tahun di posisi teratas dalam hal angka stunting dan kematian ibu dan bayi. Karena itu memang butuh penanganan yang tidak sekadar reguler, harus ada terobosan,” kata Ketua Dewan Pimpinan Cabang PDIP Jember Widarto, Selasa (27/1/2026).
Widarto memuji langkah Pemkab Jember yang membentuk satuan tugas untuk menangani tengkes dengan melibatkan semua jajaran. Dia sendiri mengusulkan agar penanganan stunting ini dikolaborasikan dengan progran Mlijo Cinta milik Pemkab Jember.
“Pemerintah membeli bahan makanan bergizi dari mlijo-mlijo itu. Mereka kemudian ditugasi setiap hari mengirimkan sumber protein dan sumber vitamin bagi anak-anak atau ibu hamil,” kata Widarto.
Ada dua keuntungan yang diperoleh dari program ini. “Di satu sisi para mlijo ini selain sudah mendapatkan gerobak bantuan, omzet mereka juga terjamin. Kedua, para balita yang rawan stunting, ibu hamil yang berisiko, dan anak-anak bisa mengkonsumsi cukup protein, cukup gizi setiap hari,” kata Widarto.
Melalui kerja sama dengan pedagang mlijo, menurut Widarto, pemberian makanan tambahan tidak hanya mengandalkan posyandu sebulan sekali. “Tinggal kemudian kader posyandu dan tenaga kesehatan memantau perkembangan ibu dan bayi di posyandu setiap bulannya,” katanya.
Widarto mengatakan, biaya yang dibutuhkan tidak besar. “Dengan asumsi ada 50 kerawanan stunting di masing-masing 248 desa dan kelurahan, dibutuhkan hanya sekitar Rp 5 miliar untuk membeli telur,” katanya.
DPC PDI Perjuangan Jember sudah mencoba melakukan hal ini dalam ruang lingkup terbatas. Selama dua bulan terakhir, PDI Perjuangan menyuplai telur yang dibutuhkan untuk 30 keluarga berisiko stunting.
“Kami bekerja sama dengan tujuh toko kelontong. Setiap lima hari sekali keluarga rawan stunting bisa mengambil telur-telur itu di toko kelontong untuk dikonsumsi setiap hari,” kata Widarto.
Widarto membayangkan setidaknya ada 13 ribu keluarga rawan stunting yang bisa terbantu jika model yang digunakan PDIP ini diaplikasikan oleh Pemkab Jember dengan menggunakan dana APBD. “Kami saja dengan anggaran terbatas bisa mempengaruhi tumbuh kembang anak. Ini diketahui setelah kami terus memantau pertumbuhan mereka,” katanya. [wir]






