Bondowoso (beritajatim.com) – Belasan domba bergegas maju. Kepalanya menyelusup di antara barisan kayu pembatas kandang. Mulut-mulut itu lahap mengunyah serbuk kasar berwarna coklat yang baru saja ditebar.
Di sepanjang longkang pakan sepanjang enam meter, tangan kanan seorang pria bertopi hitam bergerak telaten. Ia menabur pakan kering ke setiap sudut, memastikan tak ada yang terlewat. Pakan itu bukan produksi pabrikan, melainkan racikan sendiri—campuran jagung, rumput atau kangkung, serta konsentrat.
Di titik tersebut berdiri lima blok kandang. Setiap blok diisi belasan hingga puluhan domba. Mayoritas merupakan ras ekor gemuk (EG), jenis yang paling diminati pasar lokal.
Di depan salah satu kandang, bulu domba disusun membentuk tulisan sederhana, kendati tak sepenuhnya presisi: BEDDOES MERAH.
Dalam bahasa Madura, beddoes berarti domba. Istilah ini berbeda dengan kambing yang oleh warga setempat disebut embhi’. Nama itu kini bukan sekadar penanda kandang, melainkan identitas usaha yang telah dirawat hampir satu dekade.
“Saya memilih bisnis domba karena minim pesaing. Pasarnya jelas di Bondowoso dan Situbondo,” ujar Andri Mustafa, pemilik Beddoes Merah, Senin, 19 Januari 2026.
Andri telah menekuni usaha ternak domba sejak 2016. Berawal dari skala kecil, ia perlahan membangun bisnis ini tanpa gegap gempita. Jalan yang dipilihnya cenderung sunyi, tetapi konsisten.
Pada masa awal, Beddoes Merah sempat bermitra dengan sebuah yayasan di Yogyakarta. Setiap pekan, Andri diminta memasok hingga seribu ekor domba.
“Dengan skema murni trading, beli dan jual saja, tidak mungkin mencukupi permintaan sebanyak itu,” tuturnya.
Pengalaman tersebut menjadi titik balik. Mantan Ketua Cabang GMNI Yogyakarta itu mulai melakukan diversifikasi, namun tetap berada dalam satu ekosistem yang sama.
“Saya masuk ke breeding (peternakan), fattening (penggemukan), dan tetap trading. Sekarang juga menyediakan daging domba kemasan sampai pesanan kuliner domba,” katanya.
Untuk proses breeding, sepuluh hingga dua puluh ekor domba betina yang siap kawin dikumpulkan dalam satu kandang. Seekor domba jantan ditempatkan bersama mereka untuk proses pembuntingan.
“Masa bunting domba sekitar enam bulan. Setelah melahirkan, kurang lebih satu setengah bulan sudah bisa dibuntingkan lagi,” jelas Andri.
Anak-anak domba menjalani fase menyusui hingga usia sekitar dua bulan. Setelah itu, sebagian dipisahkan untuk masuk ke jalur fattening, sementara sebagian lainnya disiapkan melanjutkan siklus breeding.
Pengaturan kandang dibuat berbeda. Kandang breeding cenderung lebih luas dan hanya diisi satu jantan per blok. Sebaliknya, kandang fattening justru dibuat lebih sempit.
“Kalau terlalu luas, domba jantan bisa bertengkar. Karena mayoritas domba fattening itu jantan,” ujarnya.
Di luar aktivitas kandang, Andri juga turun langsung ke pasar. Setiap pagi ia berjualan di Pasar Cermee, Bondowoso. Dari sana, distribusi domba Beddoes Merah mengalir ke dua wilayah utama: Bondowoso dan Situbondo.
Persaingan di pasar ini tergolong minim.
“Di Situbondo dan Bondowoso cuma ada empat pedagang. Khusus Bondowoso ada dua. Salah satunya saya,” ungkap Andri.
Kondisi tersebut membuat pasar relatif stabil. Dengan permintaan yang konsisten, Beddoes Merah mampu bertahan tanpa harus perang harga atau promosi besar-besaran.
Melalui ekosistem usaha skala mikro yang dibangun bertahap—dari kandang breeding, penggemukan, trading, hingga produk olahan—Andri kini menikmati hasil yang signifikan.
“Keuntungan bersihnya antara Rp30 juta sampai Rp60 juta per bulan,” katanya.
Tak banyak spanduk, tak ramai sorotan. Di antara kandang-kandang sederhana di tapal kuda Jawa Timur, Beddoes Merah tumbuh perlahan. Jalan bisnisnya sunyi, tetapi terawat—seperti domba-domba yang setiap pagi bergerak serempak menuju palung pakan. [awi/beq]






